Uncategorized

Aku Bukan Malaikat…

malaikatHARI Sabtu di sekolah Uswatun sering diisi kegiatan dadakan dari luar. Misalnya bimbingan belajar minta waktu membagi brosur, mempresentasikan program unggulannya, ada pula presentasi dari beberapa provider. Presentasi dari beberapa perguruan tinggi, sampai kendaraan roda dua pun tak ketinggalan, sekalipun Uswatun dan teman lainnya belum punya penghasilan, tapi mereka menjadikan pelajar sebagai pangsa pasar potensial. Tak heran, guru Uswatun sering menerima aduan dari orang tua, bahwa anaknya tak mau sekolah sebelum dibelikan motor.

(Sabtu) minggu yang lalu, sekolah Uswatun kedatangan Pak Lurah. Tak ayal, Uswatun dan kawan-kawan kembali mengurungkan niatnya untuk senam kebugaran. Kedatangan Pak Lurah kali ini adalah untuk menghibau dan mengingatkan agar siswa tak terlibat geng motor. Melihat siswa yang sudah terkonsentrasikan di lapangan, Ibu Karis satu dari 6 pembina OSIS menghampiriku, “Pak, mumpung kelas lagi kosong, kita adakan razia ya,” katanya berbisik. Tanpa pikir panjang, “Ibu, infokan juga ke pimpinan ya, jawabku singkat. Tak lama berselang, Ibu Karis dan beberapa orang guru langsung bergerak menuju sasaran. Agaknya Ibu karis tak menghiraukan tanggapan teman-temannya yang sebagian kecil keberatan dengan program dadakan ini. Anjing Menggonggong, Ibu Karis pun meluncur. Gerakan 30 menit majelis guru Uswatun cukup mencengangkan, nyaris tidak ada yang kembali dengan tangan kosong. Temuan para guru Uswatun kali ini didominasi oleh rokok. Celakanya lagi, dari 14 orang yang terindikasi membawa rokok, satu diantaranya perempuan. Temuan ini memang agak aneh dikalangan guru Uswatun, lantaran baru kali ini perempuan ketahuan membawa rokok. Untuk menepis anggapan dan keraguan, saat ditanyai kepemilikan rokok tersebut, teman Uswatun tak mengelak dan mengakui bahwa rokok itu benar miliknya. Melihat kejadian ini banyak guru Uswatun menggelengkan kepala, sebagai ungkapan kekecewaannya. Peraturan sekolah Uswatun sebenarnya cukup ketat. Aturan ini dirumuskan dengan melibatkan perwakilan siswa, pengurus OSIS, perwakilan guru, wakil kepala sekolah, yang kemudian terakhir disyahkan oleh Kepala Sekolah dan disetujui oleh Ketua Komite. Untuk sosialisasinya beragam, seperti ketika penerimaan peserta didik baru, kemudian dicetak dengan ukuran kertas A3 trus ditempel di kelas masing-masing. Tidak hanya itu, untuk memudahkan guru piket menangani siswa yang melanggar , peraturan ini telah pula ditempel di meja piket (guru). Namun dalam prakteknya, peraturan ini jarang digunakan untuk memproses Uswatun dan kawan-kawan. Sekolah Uswatun masih diuntungkan oleh karena sampai setakat ini belum ada orang tua wali murid yang protes atas sangsi yang dijatuhkan oleh sekolah. Uswatun memang boleh curiga, memproses siswa tanpa landasan yang jelas besar kemungkinan tidak memenuhi keadilan. Yang menjadi pertanyaan besar bagi Uswatun dan kawan-kawannya adalah, jika siswa melanggar, sangsi bergantung pada siapa (guru) yang memproses. Ah, terkadang Uswatun suka membesarkan hal yang kecil dan sepele. Beberapa hari sebelumnya, siswa kelas X (sepuluh) peminatan Ilmu-Ilmu Sosial, meninju pintu kelas sambil berjalan meninggalkan ruangan belajar. Aksi brutal teman Uswatun ini lantaran tak mendapat izin pulang dari guru Agamanya. Alasan guru tidak memberikan izin kepada siswa yang mengaku sakit itu lantaran ia dalam kesehariannya sering tidak masuk sekolah tanpa berita. Bayangkan, dalam seminggu terkadang hanya satu atau dua hari saja masuk sekolah. Melihat siswa meninju pintu tersebut, guru pun langsung berdiri dan mengejarnya. Di luar dugaan, teman Uswatun bukannya menyesal atau lari ketakutan, malah ia berbalik dan mengejar guru Agama itu. Akhirnya duel kecil pun terjadi. Perang mulut dua anak manusia yang terpaut umur jauh itu tak terelakan lagi. Mirisnya lagi, kejadian yang tidak biasa ini disaksikan langsung oleh teman-teman Uswatun. Usai pertengkaraan hebat ini, dengan membawa emosi tertahan, guru agama menuju kantor majelis guru, setelah mendengar laporan mengejutkan tersebut, yang oleh rekan guru disarankan langsung menghadap pimpinan. Entah kemana dan menemui siapa, guru agama ini pun keluar meninggalkan ruangan. Hanya berselang beberapa menit, kemudian ia kembali muncul dan langsung menuju ruangannya. Kali ini ia terkesan lebih kecewa, kemudian dengan suara tinggi ia bertutur, aku kecewa, ternyata persoalan yang aku hadapi tidak lebih dari persoalan biasa. Mendengar ocehannya, guru malang ini terkesan tak mendapatkan simpati, tapi dari siapa tak ada pula yang bisa menjawab. Raut mukanya tampak lelah, pandangannya menerawang keseluruh penjuru. Sesekali ia gelengkan kepalanya. “Aku ini bukan malaikat, bukan malaikat”, pekik guru tersebut melampiaskan marahnya. Tak jelas betul, kemana, kesiapa dan kenapa ia berkata seperti itu. Tak salah lagi, agaknya guru Uswatun ini memang kecewa. Semakin kompleksnya persoalan dunia pendidikan dewasa ini, mewajibkan guru-guru Uswatun mawas diri sembari terus dan terus belajar membenahi diri. Berusahalah selalu untuk memahami psikologis anak. Di zaman yang riuh rendah ini, memang telah melahirkan banyak tokoh-tokoh hebat yang lantang bersuara. Canggihnya lagi, semua orang minta didengar pendapatnya, padahal (yang sebenarnya) ia tuli dan tidak peduli. Persoalan hari ini dan yang akan datang harus disikapi dengan arif dan bijaksana. Tidak ada jalan lain, guru harus tetap belajar mengembangkan dirinya. Ketika guru tidak lagi mau belajar, maka saat itu juga ia telah mempensiunkan dirinya secara sepihak.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: