Seni

GELIAT KAMPUS ASKI ITU KINI…

CYMERA_20141014_225933

SUMPAH, entah kenapa sampai saat ini lidahku belum juga pasih dengan sebutan Institut Seni Indonesia (ISI). Ketika ASKI dinahkodai oleh Prof. DR Mursal Esten di mana aku tercatat sebagai salah satu mahasiswa jurusan Tari,  sang Direktur sering mengumbar janji akan menaikan status Akademi menjadi Institut. Kata-kata dan cita-cita mulia pak Mursal nyaris selalu menghiasi pidato panjangnya pada setiap kali ia memberi sambutan. Jujur, saat itu memang kami (mahasiswa) menginginkan mimpi besar sang guru besar itu segera terwujud. Namun apa boleh buat, sampai aku menamatkan studiku di perguruan tinggi seni ini, nama ASKI belum juga berubah menjadi STSI, apalagi ISI. Namun ketika di wisuda, rasa banggaku tak teruraikan dengan kata-kata. Tidak sampai disitu, titel A.Md di belakang namaku melengkapi bahagiaku. Ingat betul bagiku, ketika itu Mak dan Ayah ku yang sengaja datang dari kampung untuk menghadiri wisudaku terharu hebat, apa lacur?, karena rasa syukurnya yang paling dalam,  atas kelulusan anaknya.

Tak salah lagi, rata-rata dosen ku ketika itu masih berpendidikan S1. Tapi patut dicatat, aku merasakan kampus seni ini terasa bergairah dan hidup. Banyak kegiatan cerdas lahir, baik dari mahasiswa maupun Dosen. Gedung pertunjukan satu-satunya menjadi tumpuan kegiatan adalah auditorium atau gedung pertunjukan Bustanul Arifin Adam. Gedung megah Hoerijah Adam hanya digunakan untuk kegiatan besar atau pekarya yang punya nama besar. Memang tak akurat data yang kupegang, kalau gedung megah itu hanya digunakan beberapa kali saja, semasa aku kuliah. Setidaknya hal dibuktikan dengan tidak semua pertunjukan layak diusung ke gedung berkelas itu.

Sampai saat ini masih ada di memoriku, karena aku menyimpan rasa iriku pada koreografer yang sebenarnya seangkatan denganku. Bedanya mereka kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sementara aku kuliah di ASKI. Menyaksikan beberapa karya tari mahasiswa IKJ waktu itu memang patut diacungin jempol, mereka kaya dan rapi dari segi teknik. Karya yang mereka usung memang ditarikan oleh penari handal. Kepiawaian yang mereka miliki dibungkus pula oleh nama besar perguruan tingginya. Apalagi zaman itu, kejayaan IKJ sebagai perguruan tinggi seni benar-benar dihargai dan disegani. Takbisa dipungkiri, perguruan tinggi ini memang memiliki dosen yang kepatutannya taklagi diragukan. Nama besar pengajarnya itu secara otomatis mengangkat kredibilitas perguruan tinggi dan mahasiswanya. Semua orang tau, kalau IKJ memang digawangi oleh seniman besar Indonesia.

Hal ini bukan berarti, dosen ku di ASKI tidak kompeten. Kampusku ketika itu juga dihiasi nama-nama mahal, sebut Yoebar Djaelani, Hajizar, Saeful Erman, Indra Utama, Elizar Koto, Nedi Winuza, Hanafi, Halim (Mak Lenggang) dan sederet nama berpengaruh lainnya. Kesimpulannya, sekalipun masih bertitel Akademi dengan status Dosen S1, namun koreografer dan komposer dari ASKI diperhitungkan di Indonesia. Ini dibuktikan dengan seringnya nama-nama mereka menghiasi baliho dan poster kegiatan di Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta dan mancanegara. Aku tidak dalam MENGGIGAU. Itu cerita indah dan nyata tahun 1991 – 1995. Bagaimana dengan sekarang?, ANTAHLAH…..

Saat ini, ketika dunia dihiasi kecanggihan, nyaris tak ada lagi batas dari segi waktu dan jarak. Informasi cepat berkembang. SAYANG, di tengah kedahsyatan teknologi, justru aku susah mendapatkan informasi tentang kampus ku kini. Aku nyaris tak melihat dan membaca informasi tentang perguruan tinggi seni yang punya andil besar dengan masa depanku itu. Aku meyakini, kampus itu terus berkembang, yang paling jelas adalah status pendidikan para Dosennya. Peran website kampus seni ini mesti digarap secara serius, sehingga berita dan peristiwa budaya yang ada tidak tenggelam begitu saja. Jujur, aku lebih mengikuti kampus seni ini dari tulisan cerdas dari BUJANG KATAPEL.

Sakitnya dunia kini. Latahnya kebanyakan orang belum juga sembuh, kenapa?, karena berita bombastis masih disukai oleh banyak orang. Mirisnya, waktu kampus seni ini menjadi gunjingan banyak orang dengan peristiwa unjuk rasa yang berujung dengan bakar-bakaran. Facebook sebagai lampiasan sakit benak kebanyakan orang menjadi laman bagi mereka untuk berpendapat. Semua orang merasa dia yang benar, banyak para ahli nujum yang berkoar dan menjerit dan meminta suaranya didengarkan oleh berbagai pihak. Ada yang dengan sumpah serapah, setengah gila, dan Alhamdulillah masih ada segelintir orang yang dengan kesadaran tinggi masih bertutur dengan santun.  Akun-akun yang aku yakini palsu juga beredar dengan liar. Hmmm, gurihnya membincang tentang ketidakberesan dan kealpaan. Maaf, aku tidak dalam mengambil posisi membela orang yang dipesakitkan oleh banyak orang. Akan tetapi sebagai kampus yang memberiku ilmu bermanfaat sampai saat ini tentu boleh merasakan resah dan sedih. Sampai setakat ini aku tak tau persis apa substansi yang membuat para penghuni kampus itu meradang.

Sekarang ASKI (maaf lidahku familiar dengan sebutan ini) berlayar dengan Nahkoda baru, pertanyaannya, sanggup dan mampukah Prof. Dr. Novesar Jamarun, MS mensejajarkan kampus seni ini dengan kampus-kampus seni lain di Indonesia?. Ini tantangan terberat bagi institusi ini. Perlu dicatat dan direnungkan kiranya, apa benar kampus ini gagal dan porak poranda hanya gara-gara nahkoda lama yang tak bisa  membawa kapal besar ini dengan baik. Maaf aku hanya berijazah dengan titel  A.Md yang ditanda tangani oleh Prof. Dr. Mursal Esten (almarhum) berpendapat, sangat MUSTAHIL seorang Prof. Dr. Novesar Jamarun, MS bisa berjalan sendirian. Untuk itu aku hanya berdoa, Institusi ini cepat pulih dan menatap jauh kedepan sehingga kampus ASKI itu tidak hnya berkibar di seantero negeri, melainkan di dunia Internasional.

Maaf, ampunkan denai Bapak dan Ibu Dosenku, jika ada kata-kata yang tidak pada tempatnya. Terima kasihku untuk semua, jasa-jasa Bapak dan Ibu tidaklah mungkin akan kulupakan. Aku bisa membayangkan betapa Bapak dan Ibu mengernyitkan jidat membaca tulisan yang tak berbobot ini, gaya tutur yang berantakan, kata-kata yang belepotan. Bapak dan Ibu harap maklum, apa lacur?, ketika menamatkan studi di ASKI dulu saya tak membuat skripsi, artinya dengan dunia tulis menulis sangat jauh. Untuk itu ubahlah kernyitan jidat dengan senyumanmu.

Sukses dan Jayalah Selalu Alamaterku…..

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: