Seni

FLS2N di Semarang Usai, Sampai Jumpa di Palembang (2015)

Malam budaya nama acaranya. Kegiatan ini diadakan di Hotel Horizon, dimana peserta untuk tingkat SMA di Inapkan

Malam budaya nama acaranya. Kegiatan ini diadakan di Hotel Horizon, dimana peserta untuk tingkat SMA di Inapkan

MARINA Convention Centre (MCC) Semarang sebenarnya terbilang mewah, layak dan refresentatif. Namun tidak untuk sekelas Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Bayangkan, kegiatan yang diikuti tidak kurang dari 5 ribu pelajar Indonesia ini tumpah ruah. Kita meyakini, panitia daerah dalam hal ini Dinas Pendidikan Semarang paham dengan kondisi dan kapasitas gedung. Menyadari penuh kondisi ini, akhirnya panitia menyiapkan 2 layar berukuran jumbo di areal parkir gedung. Setidaknya hal ini bisa mengobati keingintauan para peserta yang tak bisa memasuki gedung dikarenakan tempat yang sudah penuh. Tapi secara keseluruhan, sepertinya para peserta tak begtu menghiraukan kondisi ini, dan mereka tetap merasa nyaman, sekalipun lebih separuh areal parkir telah pula dijejali oleh Bus-Bus yang disiapkan oleh panitia untuk mengangkut para duta-dua seni pelajar dari provinsi yang ada di Indonesia itu.
Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2014 di Semarang usai. Kegiatan yang menasional dan kehadirannya selalu ditunggu ini benar-benar telah menjadi ajang kompetisi bagi para pelajar di Indonesia. Singkatnya, gawe besar Kemdikbud ini patut diacungin jempol. Jika dilihat dari penyelenggaraan, (sedikit) ada kemajuan. Namun, tak pula bisa disangkal, bahwa dibeberapa bagian masih memerlukan keseriusan dan pengetahuan untuk mengolahnya dengan baik. Sehingga, penyajian para penampil merasa nyaman. Hal ini penting dan memang menjadi perioritas untuk diciptakan. Karena dalam seni pertunjukan, kepuasan batin tidak hanya diperoleh ketika seseorang memenangkan kompetisi itu. Oleh karenanya sebuah keberhasilan bagi pekarya adalah ketika sukses membawakan karya itu dengan sedikit cela. Ini merupakan hal yang mutlak bagi pekarya. Tidak jarang, sering terjadi bahwa prestasi ternodai hanya gara-gara sebuah pertunjukan tampil tidak sesuai dengan keinginan dan kemauan pekarya. Misalnya penari yang salah, tidak kompak dan lain sebagainya.


Bagi kebanyakan peserta, tari tidak lagi hanya sebatas dunia lenggang lenggok, namun tari telah menjadi sebuah ekspresi jiwa manusia yang dilahirkan melalui teknik gerak yang mumpuni. Alhasil, keberanian dan daya imajinasi para koreografer yang didukung oleh kemampuan penari yang handal telah mengantarkan karya itu tidak hanya enak di pandang, namun sarat gagasan dan isi. Tidak sampai disitu, sebuah kearifan lokal benar-benar telah membawa cabang lomba khususnya di tari berpasangan ini menjadi sebuah suguhan menarik dan berpariasi. Sekali lagi, acara tahunan ini tampil semakin seksi. Tidak berlebihan kiranya jika ada pendapat yang mengatakan, karya yang berkwalitas itu ternyata bisa juga lahir dari pelajar SMA.
Sekali lagi, ini adalah sebuah prestasi luar biasa, kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional kali ke tujuh ini banyak mengalami kemajuan. Sebaliknya, harus pula diakui bahwa masih ada segelintir koreografer masih mendewakan sebuah karya yang harus unik, dibuat rumit, dan harus akrobatik. Ada kesan, sebuah karya yang baik adalah ketika menggunakan banyak property, setting panggung yang berlebihan, sehingga tak ayal panggung yang berukuran 6 x 8 meter itu penuh sesak oleh sebuah penapsiran dan keinginan yang besar untuk berbeda dengan yang lain.
Penari adalah tari yang berpikir. Tanpa penari, koreografer tak menjadi apa-apa. Hal ini sesuai dengan kriteria yang selalu didengungkan oleh para juri ketika teknikal miting dan diskusi usai lomba. Vokabuler gerak silakan, namun maknai dengan baik. Tidak ada jaminan dalam karya tari, banyak vokabuler itu akan menjadikan karya lebih baik. Gerak yang sederhana ketika dilakukan dengan hati, maka tidak akan lebih jelek hasilnya dari vokabuler yang sebegitu sulitnya. Demikian pula halnya membuat komposisi dengan gerak-gerak yang arobatik hendaknya disesuaikan pula dengan apa yang ingin kita sampaikan. Sehingga alur tari terhindar dari tempelan-tempelan adegan yang memberi kesan terpaksa dilakukan untuk menunjukan kepiawaian penari.
Maaf, sederhana bukan berarti tertinggal, tradisi sarat dengan kesederhanaan akan tetapi kaya dengan nilai simbolis. Gerak tradisi bukan berarti tidak mampu mengkini, mentransfer gerak non tradisi silakan, namun yang harus diingat adalah ketubuhan, kecerdasan, kemampuan sang penari untuk menginterpretasikan kemauan koreografer. Agaknya ini penting untuk direnungkan.
Penyajian Final yang tak menggigit
Oleh sebagian kecil peserta, mungkin masih segar dalam ingatan mereka, bahwa tari di babak penyisihan berbeda dengan tari di final. Hal ini telah menjadi momok yang menakutkan bagi para peserta. Kenapa tidak, menyiapkan satu tarian di tengah kesibukan patut di syukuri. Persoalannya bukan hanya di keterbatasan waktu yang harus berbagi sama dengan tugas dan kewajiban namun juga terkendala dari segi biaya yang tidak sedikit. Agaknya bisa dihitung jari, kepala sekolah dari kota, kabupaten dan provinsi mana yang bisa memahami dan mengeluarkan biaya tanpa harus mengernyitkan jidatnya. Jarang diantara mereka yang paham, kalau sebuah tarian membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maaf, apresiasi ini jarang didapatkan oleh para kreator (guru kesenian) di sekolahnya tempat ia mengajar. Penderitaan guru kesenian tak sampai disitu, giliran ke tingkat Nasional, banyak dianatara mereka harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Kenapa?, giliran ke Nasional, tenaga mereka tak lagi dibutuhkan, karena disebagian pengambil kebijakan, posisi pendamping ke tingkat Nasional telah di isi orang-orang yang tidak berkompeten. Kebijakan yang tak populer sekaligus menyakitkan ini masih di anut oleh beberapa provinsi.
11 peserta final dengan penampilan tari ke dua atau tari yang berbeda dengan babak penyisihan membuat lomba tari berpasangan tidak menggigit. Ibarat sebuah grafik, jika penyisihan grafiknya rata-rata selalu di atas, giliran babak final grafiknya ibarat terjun bebas. Hampir semua peserta tidak menyiapkan tari untuk final dengan baik. Hal ini disebabkan oleh rambu-rambu lomba yang tak tegas dalam mengurai. Misalnya, peserta boleh membawakan tarian nusantara (tari yang sudah ada). Hal ini menyebabkan para koreografer merasa ragu dan bingung, dengan sisa tenaga dan pikiran yang ada akhirnya mereka berkreasi di tengah kecembrutan dan kekeringan ide.
Untuk yang kesekian kalinya, para peserta meminta dan bermohon kepada dewan juri yang terdiri dari Ibu Maria, Nungki dan Nining untuk memikirkan hal ini dengan baik. Penolakan seluruh peserta lomba semakin menggebu begitu mengetahui kalau ketiga dewan juri ikut andil dalam merumuskan kriteria lomba. Peserta dari seluruh provinsi boleh berharap banyak, karena ketiga dewan juri tersebut adalah orang yang dalam kesehariannya selalu bertungkus lumus dengan dunia tari. Mereka bukan seniman dadakan. Untuk itu, tidak ada alasan untuk tidak mempercayainya.
Di penghujung tulisan dangkal ini saya mau MENGATAKAN: Taka ada pengaruh dan korelasinya, mau PRABOWO atau JOKOWI yang menjadi presiden kita kelak, FLS2N tetap akan menjadi PEREKAT KITA SEMUA, semoga.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

4 thoughts on “FLS2N di Semarang Usai, Sampai Jumpa di Palembang (2015)

  1. Tulisan yang menarik… Alangkah baiknya jika setiap pembina/guru kesenian mempunyai catatan mading-masing tentang FSL2N. Mudah-mudahan tulisan Faisal juga diikuti tulisan-tulisan lain. Dan alangkah baiknya jika tulisan ini bisa sampai di KemenDikBud sebagai bahan evaluasi.

    Saya ikut berkomentar kebetulan karena saya adalah salah satu juri lomba tari tingkat SD.
    Sesungguhnya ada beberapa perasaan yang sama terhadap penyelenggaraan yang juga saya rasakan sejak tahun lalu. Dan saya juga ingin membagi kebahagian saya sebagai juri melihat karya-karya tari peserta lomba tahun ini.

    Ditingkat SD tahun lalu kami para juri tari merubah sedikit saja Juklak/Tor lomba seni tari SD. Antara lain soal jumlah penari, dan tema tari. Karena ini adalah tingkat SD kita tidak bisa menuntut anak usia tersebut mahir menari tradisi. Jika itu tuntutannya maka yang akan muncul adalah Provinsi yang mempunyai pakem tari yang kuat saja.
    Maka tema akan memberikan kebebasan pelatih/guru seni tari berkreasi, yang tentu saja dengan mengangkat budaya lokal. Kami menyebutnya tema yang memunculkan permainan anak, alam dan lingkungan anak.
    Lalu jumlah penari tadinya 3 orang saja dirubah menjadi 5 penari, ini diterapkan tahun ini.
    Perubahan ini mempunyai dampak yang luar biasa, kreatifitas bermunculan, tari bukan lagi sekedar gerak, artistik juga tergarap. Pelatih/guru seni tari menjadi lebih kreatif dan anak-anak terlihat sangat nyaman, menyenangkan bahkan seperti penari profesional saat dipanggung. Mereka seperti berada di dunianya dan budayanya.

    Kami juri, juga meminta kepada pihak panitia panggung harus berukuran 7 x 9 meter. Backdrop harus hitam polos, karpet hitam polos.
    Semua dilaksanakan dengan baik oleh panitia tingkat SD.
    Tentang grafik lomba sesungguhnya juga terjadi di tingkat SD. Kami para juri mengusulkan tahun depan karya hendaknya 1 saja. Karena menyiapkan 2 karya tidaklah mudah. Dan panitia menyetujui.
    Mungkin pada babak final karya dapat disempurnakan lagi sehingga kosentrasi anak akan lebih baik.

    Mungkin saya bercerita ini untuk berbagi tentang apa yang terjadi di FSL2N tingakat SD.
    Demikian dulu, mudah-mudahan ini bermanfaat.
    Terimakasih Faisal atas tulisannya… Sukses!!!

    Salam

    Hartati

    Posted by Hartati | Juni 21, 2014, 6:03 pm
    • Makaseh uni….sepertinya untuk kondisi panggjng aja, kalah sma nih. Lantai panggung sma keramik aja, kemudian kru panggung dadakan menggunakan pel yang basah untuk membersihkan sisa properti… kegiatan cerdas kemdikbud ini sepertinya harus ditangani oleh mereka yang katam denga seni hehehehe. Disatu sisi emang dimaklumi juga, kegiatan cerdas juga mengandung proyek…

      Posted by faisalamri71 | Juli 7, 2014, 7:38 am
  2. yang di Palembang akan terjadi di bulan apa ya ?

    Posted by Muhaimin | Agustus 20, 2014, 8:35 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: