Pendidikan

Mereka Ngamen Untuk Futsal…

foto wildan di wordpress

foto wildan di wordpress

Bel tanda masuk selepas jam istirahat pertama baru saja berbunyi. Empat orang siswa dari kelas XII jurusan IPS memasuki salah satu ruangan kelas XI IPA 1. Mereka membawa satu gitar, satu kardus bekas minuman mineral, sementara dua orang lagi melenggang tanpa beban. Langkah mereka berempat terhenti dan langsung balik kanan begitu mengetahui Ibu Tina guru Bahasa Inggris menuju ke kelas yang mereka masuki. Namun Ibu Tina tidak begitu saja melepaskan mereka. “Kalian ngapain masuk kekelas ini, bawa gitar lagi, terus kardus itu untuk apa?, kata Ibu itu heran. “Ini bu, kami minta sumbangan ke adik-adik kelas untuk biaya produksi pementasan drama kami, ini tugas dan ujian praktik pelajaran Bahasa Indonesia Bu, kata salah satu siswa itu menjawab sekenanya. Iya bu, tiga orang lainnya menjawab serentak. “Untuk biaya ujian kalian, kenapa harus minta sumbangan ke adik-adik kelas kata Ibu Tina sedikit kesal. Hmmm… maaf ya bu, kami iseng aja, kata mereka sambil berlalu. Melihat tindakan mereka yang tidak biasa dan tergolong baru ini membuat Ibu ini bertanya-tanya. Ia sempat ragu dengan pilihannya, antara mencari tau yang sebenarnya dengan memanggil ke empat siswa tersebut atau ia memilih mengajar. Akhirnya rasa penasaran ini ia simpan selama dua jam pelajaran.

Persoalan ini menjadi runyam, begitu Ibu Tina menanyakan langsung kepada Ibu Weni guru Bahasa Indonesia yang mengajar kelas XII. Singkat cerita, Ibu Weni tidak terima dan merasa dirinya dipermainkan oleh empat orang siswa tadi. Masih menurut pengakuan Ibu Weni, ujian praktek pelajaran yang diampunya tidak memerlukan biaya seperti yang mereka tuduhkan. Akhirnya, cerita dan tindakan yang tergolong baru dan tidak cerdas ini sampai ke hampir telinga semua majelis guru. Cerita ini jadi berkembang kemana-mana, bahkan sedikit menjurus dan mempertanyakan tugas dari kesiswaan. Ada apa, dan mengapa siswa berbuat yang tidak jelas seperti ini. Itu adalah salah satu tanggapan dari sekian banyak pendapat yang mengemuka di kalangan guru.

Tak mau berlama-lama dengan cerita yang semakin membingungkan ini, aku langsung memanggil satu dari empat siswa yang dibincang banyak orang itu. “Maaf nak, Bapak ingin tau cerita yang sebenarnya tentang tujuan kalian masuk kekelas XI IPA itu”, kataku sambil menepuk pundak siswaku itu. Belum sempat siswaku itu menjawab, aku menegaskan dan memberi pengertian pada siswaku itu “Kamu yang jujur ya, apapun itu, Bapak minta kamu jangan bohongi Bapak, kataku dengan suara datar dan berharap ia menceritakan yang sesungguhnya. Siswa ku itu diam seribu bahasa, dengan posisi kepala tertunduk, sesekali ia menghela napas panjangnya. Akupun diam sejenak dan membiarkan siswaku itu leluasa berpikir dan menyusun kalimat pengakuannya. Lama tak mendapat respon selain dari helaan nafas panjangnya beberapa kali, aku kembali mengulangi pertanyaanku itu. Pertanyaan kali kedua ini dijawab siswaku dengan memperbaiki duduknya. Naluriku berkata bahwa, persoalan yang dihadapi siswaku ini bukanlah peristiwa biasa.

“Baik pak, saya akan ceritakan apa yang sudah kami lakukan”, kata siswaku dengan kepala tegak. “Silakan”, kataku singkat. Jujur pak, kami dari perwakilan kelas XII IPS selama tiga hari berturut-turut meminta sumbangan ke siswa kelas XII, beberapa kelas XI serta adik-adik kelas X juga. Cara kami minta sumbangan ini dengan cara mengamen pak. Adapun waktunya kami lakukan ketika jam istirahat. “Sumbangan yang kalian kumpulkan untuk apa?, kataku penuh tanya. “Untuk taruhan Futsal, pak sambung siswaku datar. “Berapa besar taruhannya”, kataku lagi. “Satu Juta Rupiah, Pak jawab siswaku itu. Kalian taruhan dengan sekolah mana?, kataku sedikit mendesak. Bukan dengan sekolah lain pak, tapi dengan adik kelas, yakni kelas XI.

Mendengar pemaparan panjang siswaku ini, giliran aku yang terdiam sejenak. Peristiwa ini adalah hal baru yang ku temui di sekolah ini. Aku tak habis pikir, kenapa sampai terbersit oleh siswa untuk melakukan hal yang tidak terpuji ini. Apakah ini, sebagai bukti bahwa kami para guru telah lalai dengan tugas kami. Apakah, kami masih bisa berlindung bahwa jumlah siswa yang mencapai 1.000 orang tidak bisa di awasi oleh 50 orang guru?. Entahlah.

Hasilnya, pertandingan futsal yang berlangsung selama satu jam tanpa wasit itu telah dimenangkan oleh siswa kelas XI. Hanya saja, seperti pengakuan kedua belah pihak kelas XI dan XII ketika aku interogasi, kelas XI sumber dana berasal dari pemain itu sendiri. Mereka tak melakukan ngamen seperti yang dilakukan oleh kakak kelasnya. Sedangkan kelas XII melibatkan banyak orang. Selain dari ngamen ke kelas-kelas, dari pemain, sumber dana berasal dari kawan-kawan kelas XII itu sendiri. Bayangkan, untuk sebuah prestise, dana Rp. 1.000.000,- itu akhirnya terkumpul dari 10 orang donatur yang tak lain adalah siswa kelas XII itu sendiri. Kabar tak baik ini telah memberi pesan kepada kita para guru, tugas itu kini semakin berat. Dunia pendidikan saat ini tidak menghendaki guru yang cuek, apa lagi terkesan mencari aman.

Akhir kata, aku tak malu menceritakan temuanku ini di kompasiana. Intinya adalah, aku mau berbagi dengan teman yang lain khususnya guru. Semoga temuanku ini bisa menjadi pelajaran sekaligus bahan renungan bagi kita guru dimanapun berada. Kesimpulannya adalah, kalau kita bekerja sungguh-sungguh melebihi dari sekedar mengajar, maka kita akan menemui banyak kejanggalan, kenakalan dan hal-hal yang tak patut lainnya dari siswa kita. Maaf, pilihan itu tiap hari ada di depan kita.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: