Pendidikan

Malu Punya Orang Tua Miskin,,

images

Betapa mahalnya sebuah kejujuran dari  siswa malang ini. Bapaknya kerja serabutan, Ibunya sebagai sales kartu kredit pada sebuah bank yang tidak pula terkenal. Beruntunglah anak yang berasal dari keluarga pas-pasan ini tidak demikian dengan kemampuan akademiknya. Setidaknya, dari tiga semester yang sudah ia lalui, ia memang tidak juara kelas, namun nilainya cukup membanggakan. Sebut aja Fadel namanya. Siswa kelas XI jurusan IPA di salah satu sekolah favorit ini, beberapa kali melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Hebatnya, perbuatan yang tak patut ditauladani itu luput dari guru dan kawan-kawannya selama ini. Tidak tau persis sudah berapa kali ia mencuri uang teman di sekolahnya itu. Namun urung diproses oleh guru BP atau wali kelas lantaran bukti autentik yang menguatkan ia melakukan perbuatan yang tak patut itu susah dibuktikan, alhasil ia tetap lolos dari sanksi.

Dua hari yang lalu menjadi hari naas baginya, ia dibuat tak berkutik. Strateginya kali ini tidak rapi alias gagal. Kegagalan ini ditandai dengan ditangkap tangannya ia oleh salah satu guru yang kebetulan melewati ruang tempat ia beraksi. Ruang kelas yang ia masuki memang sedang kosong, karena semua siswa dan siswinya sedang berada di lapangan mengikuti pelajaran olahraga. Sedangkan ia sendiri sebenarnya sedang belajar IT. Ia keluar bermodalkan, izin yang diberikan oleh guru IT dengan alasan buang air kecil.

Peristiwa memalukan  ini berawal dari seorang guru yang kebetulan lewat dan melihat ada seorang siswa sedang mengutak ngatik satu tas di dalam kelas. Gerak gerik siswa yang membelakangi pintu kelas itu benar-benar mencurigakan, melihat kejadian ini guru tadi masuk kekelas dan berdiri persis di depan pintu yang kebetulan tidak tertutup. “Apa yang kamu cari nak di tas temanmu itu”, kata Bapak ini dengan nada datar. Bak petir di siang bolong, mendengar suara itu, Fadel sontak menoleh kebelakang lalu ia berucap,  ”maaf pak, saya salah, saya kilaf”,  katanya sambil menunduk malu. Tanpa memperpanjang dialog di ruang kelas yang kosong itu, akhirnya Bapak ini langsung membawa Fadel  kekantor. “Ayo nak, ikut Bapak kekantor, kata Bapak ini sambil memegang tangan siswa menuju kantor. Tanpa perlawanan dan diam seribu bahasa, akhirnya Fadel ini nurut dan mengikuti ajakan gurunya.

Hasil interogasi Bapak guru terhadap Fadel ini, ia mengakui beberapa kali melakukan aksi pencurian di beberapa kelas selama ini. Tidak sampai disitu, kecurigaan teman dan guru yang gagal diproses enam bulan yang lalu juga diakui, bahwa benar ia yang mengambil uang temannya itu. Fadel juga mengakui selama ia sekolah tak pernah diberikan jajan oleh orang tuanya. Sebelum berangkat sekolah, ia hanya minum segelas air putih sebagai ganti sarapan paginya. Selama ini, ia dan 4 orang adiknya tak pernah sekalipun diberikan uang jajan oleh orang tuanya.  Bukan karena orang tuanya pelit, melainkan besarnya penghasilan yang tak pula tetap itu hanya cukup untuk kebutuhan beli beras saja.

Mendengar pengakuan Fadel ini, wali kelasnya kaget luar biasa. Apa lacur, belum lama ini persis ketika pengambilan rapor semester satu, wali kelasnya langsung mengatakan keberatan begitu orang tua (Bapaknya) Fadel memohon pada dirinya untuk keringanan uang sekolah. “Masa sih pak, Ibunya Fadel kerja di Bank tak bisa membayar uang sekolah?” begitu Ibu wali kelas mengatakan alasan keberatan untuk mengabulkan permintaan keringanan yang diajukan Bapaknya Fadel. Mendengar pemaparan wali kelas tersebut, orang tua Fadel menarik napas panjang, kini kepalanya menunduk. Setelah sekian lama diam, akhirnya Bapak paruh baya ini minta maaf atas kebohongan anaknya (Fadel). “Maaf kan anak saya (Fadel) bu, ia telah membohongi Ibu selama ini”, kata Bapak ini yang tak kuasa menahan air matanya. “Kenapa Pak?, jawab Ibu ini terharu. “Istri saya tidak bekerja di Bank seperti yang dikatakan anak saya, Bu. Yang benar, istri saya itu bekerja sebagai sales kartu kredit di salah satu bank yang baru berdiri di kota ini. “Sekali lagi, maafkan anak saya bu, karena ia telah membohongi Ibu”. Tanpa berpikir panjang, akhirnya Ibu wali kelas ini langsung mengatakan, “baiklah pak, saya akan ajukan permohonan keringanan ini kepada kepala sekolah, Bapak yang sabar ya”, kata Ibu wali kelas ini memeberikan semangat.

Rupanya, Fadel tidak hanya membohongi wali kelasnya saja selama ini, melainkan teman sekelasnya juga. Hal ini terbukti, ia nekad mencuri uang temannya, lantaran bendahara kelas selalu menagih uang baju seragam kelas, yang mana per siswa membayar Rp. 170.000,-. Baju kelas yang dimaksud adalah baju seragam kelas yang didisain oleh siswa itu sendiri tanpa campur tangan guru atau sekolah. Sementara perihal desakan bendahara terhadap Fadel, juga akibat Fadel menolak untuk diberikan subsidi silang oleh temannya yang mampu. Intinya, selama ini Fadel memposisikan dirinya bukanlah anak yang susah, melainkan anak yang mampu dari segi ekonomi. Sandiwara bertopeng ini sukses ia lakoni mulai dari kelas sepuluh.

Melihat kejadian di atas. Kita tak habis pikir, ternyata banyak siswa yang tak bisa menerima kekurangan dan apa adanya dalam kehidupan keluarga. Jiwa mereka memberontak, keinginan mereka yang kuat untuk lepas dari belenggu kesulitan terkadang mereka urai dengan jalan pintas. Kasus Fadel adalah satu dari sekian banyak persoalan yang ditemui di sekolah-sekolah saat ini. Untuk itu, menyelidiki dan mencari tau apa sebab, dan kenapa siswa sering terlambat misalnya, atau sering tidak datang alias alpa. Tidak semuanya disebabkan karena siswa tersebut malas. Kita tidak akan pernah bisa memahami dan menyelsaikan persoalan kekinian dengan selalu membandingkan dengan zaman kita masih di SMA dulu. Kehidupan ini dinamis, zaman itu kini telah berubah. Untuk itu diperlukan kepiawaian dan kecerdasan kita melihat persoalan ini secara komprehensif.

Untuk menguak berbagai tabir yang ada pada diri siswa, diperlukan berbagai strategi seperti, kerjasama dan keterbukaan antara orang tua dan guru harus lebih ditingkatkan. Pembentukan karakter dan menyadari fungsinya bahwa guru tidak hanya mengajar, melainkan mendidik, melatih, mengevaluasi, dan menilai. Menghadapi persoalan pendidikan yang semakin kompleks ini, para guru tidak perlu kecut dan gagap dengan sindiran, omelan dan ketidakpuasan banyak orang atas kinerja yang di anggap oleh sebagian masyarakat gagal.

Terlalu naif, jika kita baru bekerja sungguh-sungguh ketika kepercayaan penuh itu baru diberikan masyarakat pada kita. Hmmmmm…..

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: