Pendidikan

Hebat, Siswa-ku Kuasai 6 Bahasa Kebohongan

Jujur itu adalah modal besar kehidupan yang harus kita miliki.

Jujur itu adalah modal besar kehidupan yang harus kita miliki.

Seminggu yang lalu, Ibu pembina OSIS yang dikenal dekat dengan siswa di sekolah kami  menemuiku dengan nafas yang ter-engah-engah. “Pak, berita kejutan itu datang dari siswa kita yang kelas X (sepuluh). Belum lagi sempat aku menanyakan perihal yang ia maksud, ia melanjutkan kalimatnya. “Waduh, anak kita itu luar biasa pak, katanya bersemangat. “Ibu ngomongin apa sih, siswa kita bermasalah lagiya jawabku. “Ngak pak, kali ini laporan saya bukan siswa yang bermasalah, melainkan sebaliknya. Maksud Ibu, jawabku singkat. “Bayangkan pak, ada siswa kita sampai saat ini telah menguasai 6 bahasa. “Oh ya?, Ibu seriuskan?, kataku sedikit mendesak. Kali ini aku semangat mendengar aduan dari pembina OSIS kami ini. “Bahasa apa saja itu bu, kataku lagi. “Hmmm, bahasa Thailand, Kamboja, Vietnam, Philipina, Korea dan… Ibu lincah ini kemudian mengernyitkan jidatnya, yang satu lagi saya ngak ingat pak, namun yang jelas bukan Inggris katanya lagi. “Ini kejutan, prestasi dan kemauan luar biasa dari siswa itu bu, kataku dengan bangganya. “Iya, pak sambung Ibu lincah ini. “Sebentar, saya akan panggil siswa luar biasa itu pak, kata Ibu ini sambil berlalu.

Sekolah tempat kami mengajar bukan dari golongan sekolah favorit, semacam Rintisan Sekolah Berstandarkan Internasional (RSBI almarhum), namun bukan pula berarti sekolah kami tidak punya kebanggaan atau prestasi. Untuk urusan Seni dan cabang Olahraga, sekolah kami cukup menganggu pikiran sekolah lain ketika ada kompetisi dua cabang dimaksud. Jujur saja, terasa sulit bagi sekolah lain untuk menandingi siswa kami.

Selang beberapa menit, Ibu lincah itu datang dengan menggandeng anak laki-laki. “Pak, ini Boike namanya (bukan nama aslinya), kemudian ibu muda itu kembali berlalu meninggalkan kami berdua. “Aku langsung mengulurkan tanganku pada anak hebat yang berkulit sawo matang itu begitu ia sampai di sampingku. Baru dua pertanyaan ringan kusampaikan pada siswaku yang hebat ini, Ibu lincah ini datang lagi dengan membawa beberapa orang guru kehadapan kami. “ Oya nak, coba kamu perkenalkan diri kepada kami para gurumu dengan 6 bahasa yang kamu kuasai” kata ibu ini memotong pembicaraan kami.

Dengan senyum khasnya, dan keyakinan penuh tanpa sedikitpun ragu ia menjawab “baiklah bu”, saya akan perkenalkan diri saya. Belum lurus beridiri anak hebat kami itu, “coba bahasa Korea dulu”, kata Ibu pembina OSIS kami itu. Tepuk tangan yang meriah langsung dihadiahkan pada siswa kami itu persis diujung kalimatnya. Perkenalkan itu berakhir dengan bahasa Thailand. Semua kami terkesima, lidahnya begitu ringan dan fasih dengan bahasa yang boleh dikatakan tidak pernah kami dengar.

Keesokan harinya, saya memanggil anak 6 bahasa itu. Singkat cerita, ia mengatakan kalau ia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi tingkat Internasional, yang mana salahsatu syaratnya adalah harus menguasai 18 bahasa. Saya makin salut dengan kegigihan anak yang sebenarnya termasuk kategori pendiam ini. Kehebatan siswa kami ini langsung tersiar ke siswa kelas XI dan beberapa orang dari kelas XII di sekolah kami.

Setelah beberapa kali saya mendengar ia bertutur dalam  6 bahasa itu. Saya merasakan ada yang ganjil, misalnya, ke enam bahasa itu kok mirip dan terasa dekat, hal ini dilengkapi dengan  gaya tuturnya. Saya jadi kaget dan sedikit meragukan kebenarannya. Di sisi lain, saya terkesima dengan lancar dan ringannya lidah ia ketika bertutur. Keraguanku ini tidak kusampikan pada teman guru yang lain. Beberapa hari kupendam dan kutimang berbagai keraguanku. Namun entah apa sebabnya, keraguan itu selalu menganggu pikiranku.

Untuk kedua kalinya siswa 6 bahasa itu ku panggil lagi. Kali ini aku tak lagi memujinya, melainkan belajar. Bahasa yang ku pilih adalah Thailand. Setelah kucatat beberapa buah kosa kata, akhirnya aku iseng-iseng bertanya pada mantan siswaku yang saat ini kuliah di kota Gudeg, yang kebetulan pernah mendapatkan bea siswa ke Thailand selama 3 minggu.

Pendek kata, kosa kata yang kudapatkan dari siswaku ini tidak ada kecocokan sama sekali dengan kosa kata yang kudapat dari mantan siswaku yang sekarang mahasiswa ini. Dugaanku benar, ternyata siswa 6 bahasaku ini telah membohongi aku, guru-guru serta siswa sekolah kami. Saya benar-benar bingung, bagaimana caranya, strategi apa yang harus saya lakukan untuk mengatakan yang sebenarnya pada siswa 6 bahasaku itu. Saya harus mengunci dan tidak memberitaukan kepada pihak lain tentang kebohongan siswa itu. Jujur, kebohongan siswa 6 bahasa ini telah membuat hati saya galau. Untuk itu, saya harus hentikan kebohongan ini dengan cara baik dan cerdas sehingga siswa itu tidak menanggung malu yang akan mengakibatkan ia berhenti sekolah.

Sebagai referensi para pembaca : saya akan tampilkan 2 persi kosa kata, yakni kosa kata siswa 6 bahasa dengan mantan siswa ku yang saat ini kuliah di kota Gudeg.

Dalam bahasa Thailand

TERIMA KASIH versi siswa 6 bahasaku adalah : NOVENG PEONG / KNEONG PONGHEOM

Mantan siswaku Terima kasih dalam bahasa Thailand adalah  Khob Khun Kha

Kemudian berhitung 1 sampai 5

Versi siswa 6 bahasaku : 1. Keanam  2. Peanam  3. Leonam   4. Fuenam  dan 5. Suenam

Mantan siswaku: 1. Neung   2. Song   3. Sam   4. Si    5. Ha

Sebenarnya masih banyak kosa kata versi siswa 6 bahasaku itu yang aku konfrontir dengan mantan siswaku. Intinya, satupun tidak ada yang mendekati kebenaran. Sembari mencari celah, bagaimanapun saya harus hentikan tindakan yang tak terpuji ini.  Maaf nak, ini bukan pesan atau sindiran kamu kepada para guru untuk terus selalu mengembangkan dirinya, bukan?. Atau kamu juga ikut-ikutan latah dan lantang untuk merecoki uang tunjangan profesi yang kami terima, sehingga kami tak boleh lagi salah, kilaf dan salah ucap.

Ah, kamu bikin Bapak pusing aja, mau eksis kok seperti ini.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: