Pendidikan

12 Menit 03 Detik, Di Kantin SMA N 4 Denpasar

Sebelum meninggalkan SMA Negeri 4 Denpasar, sejenak kami sesi photo didepan kantor majelis guru

Sebelum meninggalkan SMA Negeri 4 Denpasar, sejenak kami sesi photo didepan kantor majelis guru

 

Tepat pukul 8.00 WIT, dua bis rombongan kami berhenti di depan gerbang salah satu sekolah favorit di Denpasar. Perintah pemandu perjalanan,  kami diminta untuk segera turun, karena bis tidak bisa memasuki halaman sekolah. Parahnya lagi, selain row jalannya kecil, kendaraan yang melewati jalan ini cukup padat.

Sekolah favorit yang kami tuju itu adalah SMA Negeri 4 Denpasar. Ketika kami tiba, sekolah yang sarat dengan prestasi ini lengang. Tidak ada aktivitas yang mencolok. Pernyataan ini tidak berarti, rombongan berharap di sambut dengan tari Pendet. Tidak tau persis, entah karena bertepatan dengan liburan sekolah ditambah dengan kegiatan mereka yang padat. Sembari menunggu tuan rumah mengarahkan kami, rombongan melakukan sesi fhoto. Hal ini dimungkinkan, karena ada beberapa  objek yang dapat digunakan untuk latar, seperti, gedung majelis guru sekolah yang kami kunjungi ini menyerupai kantor Walikota di daerah kami. Di sisi kanan gedung berdiri Pura. Masih di areal yang sama, terlihat bangunan kantin berukuran jumbo. Jujur, sekolah ini benar-benar tertata dan bersih. Pemandangan yang tak biasa ini membuat rombongan yang berjumlah 60 orang ini tak hirau, mereka sibuk dengan aktivitas dadakannya.

10 menit berlalu, tanpa kami sadari rombongan yang tidak sedikit ini di datangi ibu paruh baya dengan pakaian khas Bali. Ibu ini menjelaskan kepada kami perihal sekolah yang kami kunjungi. Setelah beberapa menit, akhirnya Ibu itu mengajak kami duduk di kantin yang kebetulan dekat dengan tempat kami berdiri. Pertemuan kecil ini tidak diikuti semua rombongan, melainkan hanya diikuti oleh kepala sekolah, 4 wakil kepala sekolah dan 1 pembina OSIS.

“Selamat datang di sekolah kami”, begitu ibu yang tak lagi muda ini memulai pembicaraannya. Maaf, kepala sekolah tidak ditempat, wakil kepala sekolah bagian kurikulum dan kesiswaan pun ada kegiatan pelatihan. Dan saya sendiri adalah wakil kepala sekolah urusan sarana dan prasarana, begitu ia memperkenalkan dirinya.

“Sebahagian besar siswa kami tidak mau kuliah di sini (Indonesia)”.  Melainkan mereka lebih memilih ke Jepang dan Jerman. Sekolahpun seperti mempersiapkan dan mempasilitasi siswanya.  Hal ini terbukti dengan penambahan dua bahasa asing (Jepang dan Jerman) di pelajari di sekolah ini. Sehingga begitu mereka tamat dari sekolah ini, mereka menguasai 3 bahasa (Jerman, Jepang dan Inggris). Begitu ibu wakil kepala sekolah ini dengan dialog khas Bali-nya.  Mendengar pemaparan Ibu ini, teman ku sudah tak sabaran untuk mengetahui lebih jauh tentang keunggulan sekolah ini. Namun sayang, pertanyaan temanku yang sebenarnya sedikit bernas ini dijawab oleh dua temanku lainnya. Mendengar jawaban ini, Ibu wakil kepala sekolah ini langsung mengatakan, “boleh saya lanjutkan bicara saya”.  “Silakan bu, kata Ibu kepala sekolah-ku sambil memperbaiki duduknya.

Sekolah kami, kata Ibu itu lagi, tak pernah merisaukan tentang pelaksanaan ujian nasional. Prinsipnya, kapanpun ujian nasional diadakan, siswa dan guru-guru di sini siap. Kalaulah pemerintah mengatakan besok pagi harus ujian nasional, siswa kami sudah siap. Sedikitpun kami tidak ragu akan hasil ujian nasional itu. Kami kaget luar biasa mendengar pernyataan Ibu itu. “Kenapa kami mengatakan siswa kami siap?”, lanjut ibu ini dengan sedikit nada tanya. Karena siswa sudah kami bekali dari kelas X (sepuluh) sampai dengan kelas XII (dua belas).

Sekolah kami belajarnya sampai sore. Adapun rinciannya, mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 13.00 Wit sekolah reguler seperti biasa (mereka menyebutnya sekolah gratis). Untuk sesi keduanya khusus untuk mata pelajaran yang di ujian nasional-kan (sekolah di Batam menyebutnya pemantapan). Untuk sesi kedua ini siswa membayar Rp. 550.000,-/bulan. Sesi kedua ini adalah atas gagasan dan tanggung jawab dari komite sekolah. Mendegar pemaparan ini, tanpa komando, serentak kami menghela napas. Apa lacur, karena apa yang disampaikan oleh Ibu dari SMA Negeri 4 Denpasar ini berbanding terbalik dengan sekolah kami.

Ketika disinggung dengan intervensi pihak luar terhadap sekolah di sini (SMA N 4 Denpasar), misalnya ada pejabat atau anggota dewan yang menitip anaknya untuk diterima sekolah ini. Ibu ini menjawab tegas, sekolah kami ini sangat terbuka, anak siapapun boleh masuk di sini. Hanya saja, sampai saat sekarang belum kami temui anak yang nilainya di bawah rata-rata lalu memaksakan diri masuk ke sekolah ini. Mendengar pemaparan Ibu ini, kembali kami harus berpapasan sambil berdecak kagum. Sekali lagi aku harus bilang, tidak demikian halnya dengan kondisi sekolah favorit di kotaku. Di kotaku, intervensi luar biasa hebatnya, bahkan kepala sekolah tak kuasa untuk menolak pihak luar tersebut. Alhasil, penerimaan peserta didik di kotaku tak luput dari masalah.

Siswa di sekolah ini banyak menorehkan prestasi gemilang, tamatannya lebih memilih kuliah di Jerman dan Jepang, hal ini lumrah dan (sedikit) biasa. Apa lacur, tidak perlu sebuah penelitian untuk membuktikan bahwa mengajar dan mendidik manusia pilihan itu tidak serumit siswa gado-gado (alias nilai pas-pasan). Persoalan dan kendalapun jauh lebih rumit di sekolah biasa. Kalau di sekolah favorit, lebih cendrung mengarah ke persoalan intelektual. hal ini dipermulus oleh kerja dan peran pengurus komite sekolah yang benar-benar tau akan tugas dan fungsinya. Satu hal yang aku iri dengan guru di SMA Negeri 4 Denpasar ini adalah, pengurus komitenya memberikan kenyamanan kepada mereka untuk mendidik, melatih, mengevaluasi, mengajar dan menilai. Urusan pengembangan, pembangunan, fasilitas dan pendukung lainnya menjadi tugas komite sekolah dan para orang tua.

Di sekolah ini terbentuk sebuah kuktur yang layak dicemburui, mereka saling menghargai, menjaga kebersihan, keindahan, kerjasama dan saling mendukung satu sama lainnya. Dugaanku semakin kuat ketika aku melihat di beberapa sudut bangunan terpampang dengan jelas poto berukuran jumbo tentang aturan berpakaian. Contoh pakaian untuk hari Senin-Selasa berbeda dengan hari Rabu dan Kamis. Demikian pula halnya dengan Jumat berbeda pula dengan hari Sabtu.

Jujur saja, pertemuan 12 menit 03 detik ini cukup membuat kami puas. Banyak hal yang bisa dibincang, disikusikan dan direnungkan. Makaseh bu, sekarang aku baru menyadari, pertemuan tidak selalu harus di gedung dan ruang yang dilengkapi pendingin. Ini buktinya, ternyata bincang di kantinpun bisa melahirkan gagasan dan pikiran bernas. Sekali lagi terima kasih, Ibu mau berbagi dan menerima kami. Akan ku kabari siswaku di SMA Negeri 4 Batam perihal iri, cemburuku pada prestasi kalian.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: