Seni

Geliat Koreografer Muda; Antara Harapan dan Kecemasan

(Catatan kecil Pingat Kejohanan Tari-Dewan Kesenian Riau)

tari

Tiga belas tahun lebih menghilang. Kegiatan dengan tajuk Pingat Kejohanan Tari yang digagas Dewan Kesenian Riau (DKR) ternyata masih punya tempat di masyarakat pendukungnya. Anjungan Seni Idrus Tintin menjadi saksi. Gedung berkapasitas tak lebih 700 orang itu dijejali oleh pengunjung. Menonton 15 karya tari (kontemporer)  dari perwakilan Kabupaten dan Kota se-provinsi Riau malam itu, mengisyaratkan bahwa koreografi di daerah ini tidak sepi.

Pertunjukan dua malam (25-26 Oktober) telah mengabari masyarakat Riau, bahwa koreografer muda di Provinsi kaya ini punya kemampuan yang perlu di asah, baik koreografi, wawasan, pencarian gagasan karya yang baik serta penggalian akar tradisi. Sehingga penyajian karya yang berlabel tari kontemporer tidak hadir sekedar mengedepankan persoalan tanpa sebab, aneh-aneh, asal unik, serta cendrung bahkan ada kesan (wajib) mengangkangi etika dan estetika.

Mengungkapkan perasaan, khayalan, hasil pengamatan, dan pengalaman melalui media atau simbol non verbal adalah kebutuhan setiap orang. Namun bagi seorang penata tari, bagaimana melahirkan melalui wujud artistik yang menuntut kepekaan intuisi dan kecerdasan tubuh. Tentu kita berharap koreografer dalam melahirkan karya tari kontemporer tidak hanya terjebak pada gaya garap yang hanya mementingkan isi dan mengenyampingkan bentuk dari koreografi itu sendiri.

Kecurigaan-pun muncul ketika melihat beberapa nomor tari. Kuat dugaan, menggarap tari kontemporer bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif pendek, misalnya 3 sampai 6 hari. Hal ini terbukti pada beberapa karya, terutama yang penyajiannya mendapat giliran malam kedua pada Pingat Kejohanan Tari. Karya lahir tanpa konsep yang jelas, suasana tanpa sebab pun berkeliaran dengan liarnya di panggung, dan tidak sedikit pula para penari berimprovisasi suka-suka. Tiga penari keluar-satu masuk, lalu bergerak pelan menjadi pilihan, mereka mencoba menciptakan suasana, namun lahir tanpa irama yang jauh dari makna.

Hal ini diperparah dengan kehadiran musik yang sedikit egois. Kita sering terkejut dengan sentakan bunyi gendang yang datang tiba-tiba. Jujur saja, suasana acara tahunan seperti Parade Tari Daerah tak terelakan lagi. Riuhnya tepuk tangan, histerisnya suara para pendukung di tengah pertunjukan menjadi lumrah dan nyaris mewarnai semua penyajian karya tari. Diakui, Untuk materi musik banyak mengalami kemajuan. Musik enak didengar, akan tetapi ada yang terpisah dari karya tari. Padahal peran musik tari mempunyai tugas tersendiri, di samping sebagai iringan, kehadiran musik tari juga untuk mempertegas gerak, rasa, pengatur ritme, tempo, suasana dan karakter dari koreografi. Sehingga kehadiran musik benar diperuntukan untuk tari.

Saya setuju dengan ungkapan Iwan Irawan menanggapi 7 karya yang tampil di malam pertama. Seniman Pemangku Negeri tersebut tampak sumbringah dengan khasnya. Apa lacur?, ‘’Aku kaget dan bangga luar biasa, ternyata potensi koreografer Riau cukup menjanjikan,’’ katanya begitu ia menghampiriku sambil kami berjalan menuju keluar gedung pertunjukan. Sesampainya di luar gedung, yang disusul oleh Hartati, kami bertiga terlibat pembicaraan ringan membahas pertunjukan yang baru saja usai.

Intinya, koreografer muda provinsi Riau mesti diberikan ruang lebih, laman dan laluan sehingga keinginan mereka untuk berekpresi bisa tersalurkan. Masa muda adalah masa yang sarat dengan daya imajinasi, masa yang penuh semangat untuk berbuat. Namun dalam seni semangat saja belumlah cukup. Melainkan kepekaan rasa, pengalaman dan pengetahuan menjadi penentu.

Prinsip sederhana dalam karya tari yang begitu percaya kepada tubuh, masih terabaikan. Kecendrungan ini bahkan melahirkan tudingan, bahwa, karya koreografer yang tampil pada malam itu terasa verbal dalam menerjemahkan ide. Mereka tidak bisa bergerak lebih banyak untuk mengeksploitasi tubuh dalam melahirkan metafor atau simbol-simbol bagi sebuah wacana di balik itu. Lahir anggapan, beberapa karya yang tampil terkesan hanya memindahkan apa yang terdapat dalam kehidupan keseharian lalu di bawa ke atas panggung.

‘’Tari Menyibak Warta’’ karya Hidayatullah misalnya. Garapan ini terinspirasi dari beragamnya pemberitaan yang terbit di berbagai media. Gaya garapnya tidak mudah ditebak, struktur koreografi-pun tersusun lumayan cerdas. Sayang, garapan yang didukung oleh kemampuan penari yang cukup baik ini tidak sejalan dengan kecerdasan dan pemahaman koreografer tentang artistik panggung. Tidak hanya itu, lincahnya ide liar untuk membantu suasana yang diharapkan pada lighting tidak pula banyak membantu. Padahal metafor-metafor itu lahir di beberapa bagian garapan ini. Kalau saja, garapan ini dibantu oleh intensitas penuh dari lighting dan musik tari yang tidak terlalu menonjol melebihi kebutuhan garapan tari, maka karya ‘’Menyibak Warta’’ dengan penata musik Taufik Yendra ini mungkin akan berbicara lain.

Sedangkan koreografi yang belum banyak terkontaminasi dengan gaya, corak, dan teknik gerak terlihat jelas di karya ‘’Menyulou Gelombang’’ dengan penata tari Faizal Andri. Keinginan berbuat, berkreativitas lebih menonjol dari pada menyalin, mengkopi paste bentuk-bentuk kekinian. Tari ‘’Menyulou Gelombang’’ hadir sederhana, keluguan gaya garap yang didukung 11 orang penari belia  centil mungil telah memberi warna tersendiri pada malam itu. Penari yang baik adalah harus mampu memproyeksikan isi atau jiwa tarian. Kalau ini belum dirasakan kehadirannya di atas panggung, agaknya karena usia mereka yang masih muda itu. Jujur, karya ini sukses di awal, namun kehilangan gairah pada menit-menit berikutnya.

Lain dengan tari ‘’Tegak Tiang Galanggang’’, ‘’Sujud Antara Dua Keputusan’’. Karya mereka telah memasuki ranah koreografi yang mempunyai keinginan besar untuk keluar dari kesederhanaan. Kedua karya ini tampil dengan tafsir dan ekplorasi yang menggigit. Menembus batasan tari tidak hanya sekedar gerak berirama. Kesetiaan dan pemahaman mereka bahwa tradisi adalah sumber inspirasi yang tidak pernah kering untuk digali mengalir deras dalam garapan ini. Sisi lain dari 2 karya ini adalah belum mempunyai kesamaan pandangan dalam menerjemahkan sesuatu. Vokabuler yang digunakan terjebak kepada hal-hal yang sudah lazim selama ini. Tidak bisa pula dipungkiri, beratnya tema, beragamnya persoalan yang hendak diangkat yang menjadi sumber inspirasi telah membuat mereka gagap dalam berbuat. Karena dalam tari, tidak semua persoalan layak dan bisa diangkat ke panggung. Untuk itu kejelian, dan kearifan seorang koreografer menjadi penting.

Keberanian luar biasa, tampil memukau dan rapi secara penyajian terlihat dari penampilan tari ‘’Ketuk Palu’’. Sebenarnya yang ia tawarkan (seperti meja, kursi dan podium) tidaklah hal yang (terlalu) baru. Namun ‘’Ketuk Palu’’ karya penata tari sekaligus penari Wan Harun Ismail memiliki musikalitas tersendiri dalam memainkan ekpresinya berikut gagasan yang mewakili bahasanya sendiri, dia juga memiliki intuisi dalam tubuhnya. Tubuh penari dibungkus jauh dari gemerlapan. Karya ini di samping ditarikan penari yang mumpuni juga banyak dibantu oleh lighting.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak barang yang sering kita gunakan secara berulang-ulang. Akan tetapi begitu memasuki wilayah estetik orang ingin mendapatkan surprise dan kejutan. Pengulangan yang dilakukan secara berlebihan akan mudah kehilangan daya tarik estetiknya. Etika dan estetika memiliki kesamaan karena keduanya saling terkait dengan nilai-nilai. Bedanya, etika lebih dititikberatkan kepada tingkah laku manusia, estetika lebih terkait dengan kontemplasi (perenungan), mengamati, mencermati suatu obyek.

Kerisauan lain dari Pingat Kejohanan Tari kali ini adalah, kecendrungan karya yang hampir sama. Ternyata, tempat dan ruang kreatif yang berjauhan tidak membuat karya mereka berbeda satu sama lainnya. Atau mungkinkah kesamaan sifat, gaya ungkap dan pola garap mereka yang mirip di panggung, lantaran mereka terlahir dari rahim yang sama yakni Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR). Entahlah…

Kepiawaian dalam menata gerak dan memadukan dengan unsur-unsur pentas yang lain, jelas didapat dari proses latihan dan pengalaman. Tinggal sekarang, bagaimana memanfaatkan bahan yang ada secara arif dan kreatif, tidak meniru, dan juga tidak asal baru. Untuk itu sebagai penata tari muda, mereka memang harus menjaga irama kreatifnya dengan selalu pentas dan mencipta. Sedangkan ruang, wadah dan laman menjadi tanggung jawab pemerintah (baca Dewan Kesenian Riau), jika dua komponen ini saling isi dan mengerti posisi, tidak perlu menunggu waktu terlalu lama, diyakini gairah berkesenian itu akan hadir di sini. Gimana Pak Ketua DKR, SUAI?.***

Tulisan ini telah dimuat di Riau Pos dan Batam Pos

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: