Pendidikan

Dari Demo, Mutasi Guru Hingga Siswa Tewas

Dunia pendidikan di kota-ku dua minggu belakangan ini gaduh. Mulai dari persoalan mutasi guru, sampai pada demo siswa yang menuntut untuk mencopot kepala sekolahnya. Herannya lagi, aksi yang dilakukan oleh para siswa sekolah negeri yang masih belia ini rapi dan terorganisir dengan baik. Tak ayal, aksi mereka-pun sempat membuat pemerintah daerah gundah gulana. Paling tidak, ini dibuktikan dengan di mutasinya kepala sekolah mereka ke sekolah yang lain. Jujur saja,  terasa sulit untuk mempercayai gerakan ini murni dilakukan oleh siswa. Indikasinya, mutasi yang dilakukan oleh Wakil Walikota di kota-ku untuk meredam persoalan ini tidak jua kunjung padam. Suara sumbang tentang persoalan ini masih tetap bersahut-sahutan di jejaring sosial.

Pertanyaannya, apa tuntutan para leader pendemo tersebut?. Apakah siswa tersebut mengerti hakekat dari gerakan yang mereka lakukan itu?. Karena siswa tanpa pendamping, pensuport, terasa sulit dipercayai begitu sensitifnya mereka dengan kebijakan-kebijakan kepala sekolah yang oleh sebagian orang melihatnya kurang bijak.  Ini tidak masuk akal, bahkan sedikitpun saya tak mempercayai kalau satu diantara siswa yang demo tersebut menginginkan jabatan sebagai kepala sekolah.  Lalu?, entahlah.

Berita terbaru, tersiar kabar, mutasi terhadap kepala sekolah yang di demo siswanya itu, tidak pula diterima oleh majelis guru dan komite tempat tugasnya yang baru. Alasan penolakan guru dan komite sekolah sederhana, mereka masih ingin dibina oleh kepala sekolah mereka yang lama. Ternyata, persoalan ini tidak semudah apa yang dipikirkan oleh petinggi negeri di kota-ku. Melihat kondisi ini, saya terpaksa harus berburuk sangka, jangan-jangan sistem rekrutmen dan pengangkatan kepala sekolah di kota-ku selama ini sarat dengan kepentingan, bukan karena kecakapan dan kelayakan seseorang.

Tak kalah menariknya dengan demo. Kali ini giliran sekolah tempat saya mengajar yang menjadi sasaran. Apa hal?. Salah satu guru Bahasa Indonesia di sekolahku mendadak jadi pengawas. Anehnya lagi, ianya menjadi pengawas setelah beberapa hari pelantikan beberapa pejabat eselon usai dilakukan, tersiar kabar kawan karibku itu menjadi pengawas hanya bermodalkan nota dinas. Kepindahan kawan karib ku itu membuat siswa kami kalang kabut. Di tengah keterbatasan, akhirnya proses belajar mengajar terganggu. Khususnya di pelajaran Bahasa Indonesia beberapa kali tidak berjalan alias kosong. Untuk menutupi kekosongan itu, kepala sekolah akhirnya mengambil inisiatif dengan menunjuk guru Bimbingan Konseling mengajar Bahasa Indonesia. Saya tidak bertanya kepada guru BK itu perihal pede atau tidaknya mereka mengajar mata pelajaran yang tidak mereka kuasai. Dalam hati saya bergumam, ternyata dua temanku (guru BK) itu harus siap tempur dengan segala kondisi.

Saya tak mempersoalkan bahkan tak menanyakan, kenapa kawan karibku itu mendadak jadi pengawas, melainkan yang menjadi pertanyaan besarku adalah siapa yang berdiri di belakang kawan karibku itu,  sehingga dinas pendidikan di kota-ku tak kuasa menolak permintaannya. Sumpah, aku baru tau, ternyata kawan karibku itu luar biasa.

Berita terbaru yang juga tidak kalah hebohnya datang dari sekolah kejuruan masih dari kota-ku. Herry Anwar namanya. Siswa kelas XII jurusan Welding ini meninggal lantaran tertimpa oleh tiang gawang futsal di sekolahnya. Peristiwa ini berawal dari pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh karena Herry tidak membawa buku pelajaran Bahasa Indonesia, sebagai hukuman atau untuk efek jera, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, Herry yang oleh gurunya ketika itu diberi sangsi berlari mengelilingi lapangan futsal di sekolah-nya. Naas bagi Herry, hukuman atau sangsi mengelilingi lapangan tidak dilakukan sebagaimana mestinya, melainkan Hery melakukan full up di tiang gawang futsal. Entah bagaimana persisnya, gawang futsal itu menimpa Herry yang mengakibatkan pendarahan di kepala. Melaihat kejadian ini, teman yang berada di lapangan menolong Herry dan pihak sekolah membawa ke rumah sakit terdekat. Malang bagi Herry, nyawanya tak tertolong. Akhirnya siswa yang dikenal baik ini meninggal dunia.

Kasus ini, kembali menjadi gunjjingan hebat di jejaring sosial. Guru kembali dipelasah, dihina dan dihujat. Beragam tanggapan miring di alamatkan kepada guru yang menghukum siswa malang itu. Banyak orang berpendapat dengan menanggapi persoalan ini secara emosional. Sekalipun, teman-teman Herry mengatakan ini merupakan kelalaian dari Herry. Tidak hanya teman Herry yang memberikan kesaksian,  hasil penyidikan dari kepolisian juga menyimpulkan kejadian ini murni kelalaian dari siswa malang itu.

Selamat jalan Herry, semoga dirimu tenang di alam-mu yang baru.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: