Seni

Catatan Kecil FLS2N 2013: Antara Harapan & Tragedi Toilet

FLS2N MEDAN

“Eh, tau nggak mata gue ngantuk kali”.  “Iya lo, gue malah ngemil sampai kenyang”. “Gue, kalau nggak di goyang-goyang ni kepala, mungkin gue dah ketiduran, apalagi pas tarian yang lampunya dimatiin. “Gue juga heran, ngak Jawa Tengah ngak Jawa Timur, perasaan karya mereka kok sama gitu. “Hussttt… kita ngomongin apaan sih”, sambung salah satu diantara mereka. Sepertinya satu dari mereka bertiga menyadari akan pembicaraan itu tidak pantas di ucapkan apalagi di dengar oleh orang lain.

Dialog singkat khas Jakarte ini adalah percakapan 3 orang dewan juri lomba tari berpasangan tingkat SMA di toilet hotel Madani Medan Sumatera Utara Juni yang lalu. Ketiga dewan juri tersebut tidak menyangka, jika di toilet itu bukan hanya mereka bertiga, melainkan ada satu peserta yang kebetulan lebih duluan masuk ke toilet, kontan saja percakapan ringan mereka didengar dengan jelas. Kompaknya 3 dewan juri ini ke toilet oleh karena panggung sedang dibersihkan oleh pihak hotel. Bukan berarti panitia memberikan perlakuan khusus pada penyajian terakhir yang kebetulan penampilan (Medan) dari tuan rumah. Tapi, kru panggung dadakan ini terpaksa memfakum-kliner karpet yang dikotori oleh sisa-sisa proverti penampilan dari provinsi Jambi. Sembari menunggu dan mengusir rasa kantuk, 3 dewan juri, memanfaatkan waktu jeda ke toilet. Hal ini memang dimungkinkan, karena jarak panggung dengan toilet yang tidak begitu jauh.

Tulisan ini tidak (bermaksud) memojokan dewan juri. Mereka bertiga pantas dan layak menjadi eksekutor lomba saat itu. Siapa yang menyangsikan kredibilitas seorang Nungki, Maria dan Ibu Nining. Mererka saling melengkapi satu sama lain. Mereka adalah penggiat seni, diyakini iven akbar yang dinantikan oleh pelajar Indonesia ini tidak (akan) mungkin akan merusak komitmen mereka pada seni pertunjukan. Intinya, catatan dangkal ini mencoba mengurai beberapa hal penting yang berkenaan dengan pelaksanaan FLS2N di Medan pada bulan Juni yang lalu.

Jujur saja, dialog 3 dewan juri ini benar-benar harus menjadi perioritas untuk diperhatikan, dikaji ulang oleh  penyelenggara berikutnya. Kenapa?, tentu kita berharap helat nasional ini tidak hanya menjadi kegiatan serimonial pemerintah belaka. Perlu diinformasikan kepada pemerintah dalam hal ini Kemendikbud bahwa karya-karya yang di usung oleh pelajar ke tingkat nasional dari tahun ketahun menunjukan perkembangan yang luar biasa, mulai dari kwalitas penari,  konsep karya dan sampai pada unsur-unsur pentas lainnya. Oleh karenanya,  pihak penyelenggara harus benar-benar profesional dengan memberikan panggung yang pantas, acuan lomba yang jelas dan tidak asal baru jika dilihat dari kriteria. Pertimbangan-pertimbangan baik psikologis dan kepatutan harus menjadi perioritas untuk dirumuskan. Kehebatan iven ini bukan terletak dari rumitnya kriteria yang dibuat oleh panitia. Akan tetapi, selain mudah di pahami juknisnya, panitia mestinya berpikir bagaimana menjadikan iven besar ini tidak hanya sebagai ajang kompetisi yang hanya sebatas memperebutkan uang tunai dan medali saja,  namun ianya telah pula menjadi sebuah ilmu bagaimana memenej sebuah kegiatan.

Di Medan misalnya, untuk cabang lomba tari berpasangan, Kemendikbud terasa mendadak kreatif. Karena, masing-masing provinsi harus membawa 2 buah karya tari, 1 untuk babak penyisihan dan 1 karya tari untuk babak final. Namun sedihnya, tidak satupun dewan juri dan panitia yang bisa menjelaskan secara konprehensif kenapa peserta harus membawakan tarian yang berbeda  dengan babak penyisihan. Sampai sekarang persoalan yang bikin heboh ini galau dengan segala persoalannya.

Sederhananya, ini lomba karya tari garapan baru. Untuk itu, lomba  tari  berpasangan tidak perlu latah meniru lomba solo vokal yang ada lagu wajib dan pilihan, baca puisi yang ada puisi wajib dan pilihan. Seperti yang diketahui, saat itu, dewan juri justru ngotot untuk mengadakan final dengan tari yang berbeda. Pegangan dewan juri hanya satu, karena yang dinilai adalah kepenarian. Ungkapan dan alasan dewan juri ini bukannya membuat para peserta mengerti dan memahami, bahkan sebaliknya bertambah bingung. Menilai kepenarian seperti apa yang dimaksud. Persoalan makin runyam dan menjadi antah barantah ketika yang menjadi pemenang saat itu adalah peserta yang membawakan tarian yang sama antara penyisihan dengan final, sedangkan tarian yang berbeda satupun tidak masuk dalam lima besar. Ini hak juri, itu benar adanya. Namun ada kata bersayap yang disampaikan oleh dewan juri sehari sebelum final, bahwa  peserta membawakan tari  yang berbeda antara penyisihan dengan final , maka peserta tersebut mendapatkan nilai bonus.  Bagaimana perasaan peserta yang tetap gagal masuk lima besar sekalipun telah berusaha untuk tampil beda antara penyisihan dengan final?. Silakan tanya dengan peserta  provinsi Jambi dan Jawa Timur, karena mereka punya jawabannya.

Lomba tari berpasangan diadakan final, itu pantas dan bahkan harus.  Jujur saja, ini adalah langkah maju. Kenapa?, karena melihat 33 karya tari dalam waktu satu hari tidak mudah.  Jika dipaksakan untuk langsung mengambil 3 besar bukan tidak mungkin akan terjadi mall praktik oleh dewan juri. Tidak percaya, ulangilah membaca tragedi toilet dengan percakapan tiga dewan juri tersebut di atas. Simak baik-baik, kenapa percakapan ringan tapi sensitif itu terjadi. Oleh karenanya, mengambil 10 besar kemudian mengadakan final dengan materi (tari) yang sama merupakan langkah bijak.

Pak Menteri,  Katakan pada Siswa Indonesia,  cita-cita (juga) ada di cabang seni

Sekali lagi, melalui helat Nasional Kemendikbud dengan tajuk Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) ini, kita berharap cara pandang pelajar Indonesia dan masyarakat luas harus diluruskan. Kegiatan sekaliber FLS2N ini harus bisa dijadikan mumentum oleh Menteri Pendidikan dan sekaligus mematahkan isu di tengah masyarakat bahwa, SAAT ini berprestasi di bidang seni tidak hanya selesai dengan tepuk tangan yang meriah. Sampaikanlah dengan lugas Pak Menteri, bahwa cita-cita dan masa depan juga ada pada cabang seni. Jelaskan juga pada masyarakat luas dengan tegas, berprestasi di cabang seni tidak berhenti pada perolehan medali dan seonggok kecil uang tunai saja. Akan tetapi berprestasi di bidang seni juga merupakan sebuah prestasi luar biasa yang bisa dibanggakan. Berprestasi di bidang seni saat ini diganjar dengan bea siswa,  jaminan masuk perguruan tinggi favorit, dan lain sebagainya.

Jangan biarkan jiwa generasi pengganti kita menjadi kering kerontang, berhentilah memandang pelajaran yang diperlukan itu hanya Matematika, Fisika, Kimia dan lainnya. Sedangkan materi pelajaran kesenian bisa bongkar pasang untuk memenuhi yang diwajibkan tadi. Di zaman pendewaan materi dan teknologi ini, seharusnya disegarkan dengan kesenian. Jika tidak, mereka kelak akan menjadi orang-orang yang bringas yang hanya tahu “seni” melempar batu dan jika sudah besar hanya menguasai “seni” debat kusir yang kemudian diikuti dengan aksi usir-mengusir. Seperti yang kita lihat di acara debat, baik di televisi, ruang seminar, ruang rapat dewan yang katanya terhormat.

Gimana pak Menteri?, SUAI-KE?.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: