Seni

FLS2N 2013 di Medan, Koreografer Meradang…

Sejak pukul 16.00 wib, Lapangan Merdeka kota Medan ketika itu telah dijejali oleh ribuan penonton. Lapangan terbuka yang disulap menjadi indoor itu benar-benar sesak. Tiga jam berjalan, kegiatan di pra pembukaan ini di isi oleh penampilan-penampilan berupa tari etnik, nyanyi dan lawak  dari Sumatera Utara. Di nomor-nomor awal, suguhan dari tuan rumah  beberapa kali mendapat aplus dari ribuan penonton. Sayang, kenyamanan dan ketabahan penonton yang adalah duta-duta seni pelajar dari seluruh provinsi di Indonesia itu mulai terusik jam 19.30 wib. Akhirnya, tempat duduk yang telah mereka duduki selama 3 jam lebih itu, mulai di tinggalkan. Di saat para pengunjung telah banyak meninggalkan tempat duduknya alias kursi penonton tanpak kosong, pukul 20.30 muncul rombongan wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim, Gubernur Sumatera Utara dan petinggi lainnya di  tempat acara.  Singkat cerita, grup band papan atas yang diharapkan bisa menghipnotis ribuan pelajar Indonesia itu harus puas karena penampilan mereka hanya disaksikan oleh ratusan penonton. Tersiar kabar, pembukaan yang direncanakan pagi hari dikensel menjadi malam hari itu dikarenakan pelantikan (GANTENG) gubernur Sumatera Utara terpilih.

Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) nama kegiatannya. Kegiatan ini berlangsung dari 16 – 22 Juni 2013. Helat akbar yang digawangi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini tiap tahun selalu diadakan di provinsi yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan pemerataan dan penggiliran ini. Cuman dibeberapa provinsi panitia pelaksana terasa gagap (dan tidak siap) dalam menyelenggarakan iven akbar, yang dibiayai dengan dana besar ini. Jangan heran, jika peserta yang datang dari seluruh provinsi (sering) mengernyitkan jidatnya dengan kesiapan panitia. Menurut panitia mungkin hal sepele. Misalnya, juri terpaksa sekaligus menjadi pembawa acara berhubung panitia yang belum juga datang. Tak ayal lagi, terkadang lomba berjalan tanpa panitia. Demikian juga dengan panggung yang dibuat seadanya, kemudian bacdrop dengan warna suka-suka tanpa memikirkan etika dan estetika panggung. Jujur saja, dangkalnya panitia dalam menyiapkan hal-hal penting kental terasa.

Peserta atau Panitia Yang Salah.

Entah siapa yang mau disalahkan. Faktanya, 95 % lebih peserta cabang lomba Tari Berpasangan dari seluruh Indonesia harus berdebat panjang dengan salah satu dewan juri ketika tehnikal miting berlangsung. Cabang lomba Tari Berpasangan di FLS2N tahun ini ada perubahan sangat mencolok dan bahkan kurang lazim di dunia tari Indonesia. Apa lacur?, satu peserta harus menyiapkan dua garapan tari, yakni satu dipenyisihan dan satunya lagi di babak final. Ketika ditanya lebih jauh kenapa harus dua tari. Entah disengaja atau tidak dewan juri mengatakan, untuk tahun ini khususnya di cabang tari berpasangan yang dinilai adalah dari kepenariannya. Rancunya lagi, dewan juri tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan kepenarian itu. Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah sebuah tarian bisa dinilai dengan meninggalkan unsur-unsur pentas lainnya. Artinya, karya yang tampil hanya melihat dari sisi tehnik menari dari penari tanpa mempertimbangkan konsep garapan, musik, kostum, make up, properti kecocokan antara konsep dengan garapan itu sendiri?. Entahlah, entah peserta yang tak mengerti atau dewan juri ketika itu tidak menjelaskan secara rinci dengan bahasa dan kalimat yang mudah dimengerti oleh peserta. Kesimpulannya, pertemuan sehari menjelang lomba tari itu di tutup dengan kegalauan hebat yang dirasakan oleh hampir seluruh peserta. Tapi peserta untuk tingkat SMA ini masih bersyukur. Karena debat panjang itu berakhir dengan dibolehkannya tari babak penyisishan ditampilkan lagi ketika babak final. Di ujung debat panjang yang tak cerdas itu dewan juri membuat kata-kata bersayap. Ia menjawab, akan diberikan nilai plus jika peserta yang masuk final menampilkan tari berbeda dengan babak penyisihan.

Mendengar ungkapan salah satu dewan juri ini. Akhirnya, beberapa koreografer mencoba mengadu peruntungan dengan memaksa penarinya untuk menghapal gerak dalam rentang waktu 2 – 3 jam. Anda bisa bayangkan, dengan sisa waktu yang hanya cukup untuk bernafas itu digunakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya tentang garapan baru. Kostum dibuat, properti dicari, musik tak luput menyiksa kita yang telah tersiksa. Dan penari kita jadikan robot yang tidak mengenal kata-kata letih, penat untuk sebuah kemenangan. Singkat cerita, setidaknya ada dua peserta dari 10 finalis membawakan tari yang berbeda dengan babak penyisihan itu harus menelan kekecewaan yang mendalam. Kenapa?, jangankan untuk perolehan perunggu, perak dan apalagi emas, masuk lima besarpun karya mereka tidak. Persoalannya bukan harus dapat, akan tetapi ungkapan dewan juri yang mengatakan ada nilai plusnya itu yang menyakitkan.

Kedepannya, panitia FLS2N dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan cerdas dalam merumuskan pedoman lomba. Untuk Bapak dan Ibu ketahui, menyiapkan sebuah karya tari saja, sudah banyak kendala yang harus dilalui. Terutama masalah dana proses, musik, kostum, properti dan lain sebagainya. Perlu kiranya kami kabarkan kepada Bapak/Ibu panitia pusat di Kemendikbud, bahwa tidak semua kepala sekolah yang mau mendukung untuk helat nasional ini. Tidak jarang, iven bergengsi yang kehadirannya selalu ditunggu oleh siswa secara nasional ini telah menjadi pengorbanan tahunan guru kesenian di Indonesia. Tidak sampai disitu, prestasi mereka para guru kesenian yang membuat dan membimbing sehingga memenangkan kompetisi berat ini dari kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Giliran ke tingkat Nasional mereka dipaksa untuk menelan kekecewaan yang luar biasa. Kenapa?, karena ke tingkat Nasional, jauh sebelum kompetisi ini begulir,  pendamping lain telah ditunjuk. Menyedihkan bukan?.

Sekali lagi kegiatan ini adalah sebuah ivent bergensi.  Gawe cerdas ini telah menjadi laman bagi siswa Indonesia untuk berkompetisi secara sehat melalui berbagai media ungkap. Sebagai bagian dari pendidikan karakter, kegiatan ini juga diharapkan bisa menjadi penyeimbang proses kerja otak kanan dan otak kiri. Oleh karenanya, kegiatan ini menjadi penting untuk digarap secara baik. FLS2N ini tidak hanya menjadi ajang kreatifitas, melainkan  sanggup dan mampu menjadi perekat siswa Indonesia.

Akankah FLS2N ke 7 tahun 2014 di Semarang lebih baik?, kita tunggu….

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

One thought on “FLS2N 2013 di Medan, Koreografer Meradang…

  1. Ahaa, its pleasant conversztion onn the tppic of this piece oof writing here at this blog, I
    have read all that, so att this time mee also commenting aat this place.

    Posted by Change Communications | Oktober 2, 2014, 8:51 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: