Pendidikan

Bunda, Ajarin Kakak Niat Solat Tahajud…

Satu hari jelang Ujian Nasional tingkat Sekolah Dasar, anak gadisku berubah drastis. Aku akui, dalam seminggu belakangan ini ia super sibuk. Mulai dari pemantapan yang di adakan di sekolahnya. Hanya berselang dua jam,  anak gadisku menuju bimbingan belajar sampai pukul 17.00. Tidak sampai disitu, malamnya masih berlanjut pula dengan privat di mata pelajaran Matematika. Namun kegiatan yang sangat melelahkan itu ia lakukan tanpa keluhan, bahkan seolah-olah tanpa beban, sedikitpun  tidak ada kesan keterpaksaan. Inilah yang membuat aku sedikit lega, artinya ujian nasional ini tidak membuat anak gadisku tertekan apa lagi stres.

Pada hari Sabtu, 4 Mei Sekolah anak gadisku sengaja meliburkan murid kelas VI. Kesempatan libur ini dimanfaatkan oleh istriku untuk mengajak anak gadis kami itu ke guru mata pelajaran Bahasa Indonesia ditempat ia mengajar. Kali ini anak gadisku nyeletuk, “Bunda, ini bukan libur namanya kalau kakak harus belajar pula ke teman di sekolah Bunda”. Istriku, pura-pura tidak mendengar keberatan yang disampaikan oleh anak gadis kami itu. Jujur saja, aku sedikit keberatan dengan cara istriku yang terlalu menampakan stresnya ketika anak gadis kami ini mau mengikuti ujian nasional. Di sisi lain, aku akui, istriku adalah salah satu dari sekian juta orang tua yang risau, cemas, gundah gulana dengan ujian yang penyelenggaraannya selalu di hujat oleh anak negeri ini.

Sepulangnya dari Sekolah istriku, anak gadis kami itu mengurung diri di kamarnya. Memang pada hari Sabtu itu anak gadis kami itu tidak ada jadwal belajar tambahan baik di tempat les maupun di tempat privatnya. Beberapa kali aku dan istriku mengintip aktivitas anak gadis kami itu di kamarnya, mulutnya komat kamit sambil memeggang buku, sementara di sekililingnya terdapat beberapa buku cetak tebal. Yang mengherankan tiga bahkan empat buku sekaligus terbuka. Kegiatan ini berlanjut sampai malam harinya, gubuk kecil kami mulai dari siang sampai malam harinya boleh dikatakan sepi, termasuk televisi-pun ikut hening.

Tidak salah lagi, sepertinya anak gadis kami ini tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya akan ujian nasional ini. Masih dikamarnya, selepas solat Isya, seperti biasa  ia berdoa, namun bedanya kali ini ia kedua tangannya menutupi idungnya, matanya tertutup, doanya kali ini panjang dan bahkan teramat panjang. Dalam hati aku bergumam, hmm.. ternyata anak gadisku itu mulai gelisah dan takut. Tapi yang mengherankan aku, tiap kali ditanya, anak gadisku itu selalu menjawab tidak apa-apa. Kegigihan belajar yang ia lakukann semata-mata demi untuk sebuah sekolah TOP yang diimpikan oleh anak-anak seusianya di kota kami.

Tepat pukul 2.30 menjelang subuh, anak gadis kami masuk ke kamar kami yang hanya berbatasan dinding itu. Pintu kamar kami memang tidak di kunci. Kami yakini ia masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu kamar. Sesampainya di kamar,  sambil memegang kaki istriku ia berucap “Bunda… Bunda….”, kata anak gadis kami itu membangunkan dengan suara lembut. Bukan hanya istriku yang terbangun, melainkan aku juga terbangun, cuman aku pura-pura tidak tau. Trus kedua mata aku tujukan ke jam dinding, aku kaget dua jam lagi waktu Subuh. “Ada apa kak”, jawab istriku sambil tetap berbaring. “Niat solat tahajud gimana Bunda”, Tanya anak gadis kami itu. “Kakak mau Solat Tahajud ya” kata istriku, udah niatnya pakai Bahasa Indonesia juga boleh. Setelah mendengar niat yang disampaikan oleh istriku, lalu anak gadis kami menuju kamarnya dan melakukan solat Tahajud.

Melihat anak gadis kami solat Tahajud, akhirnya istriku juga melakukan hal yang sama. Setengah jam kemudian, aku mengintip anak gadisku di kamarnya, ia baru saja naik dan berbaring di tempat tidur mininya. Untuk meyakinkan, “kakak tidur lagiya, baca bukunya dilanjutkan besok” kataku  menyuruh anak gadisku untuk istirahat dan tidur tanpa membuka pintu kamarnya. Anak gadisku malah membuka pintu kamarnya, kemudian ia mengatakan, “Ayah, kakak sudah usaha sekuat tenaga, sekarang giliran Ayah yang memikirkan jika nilai kakak tidak mencukupi masuk Sekolah favorit itu”, kata anak gadisku dengan mimik serius. “Maksud kakak” kataku lagi, “Iya, Ayah harus mencari jalan bagaimana caranya kakak bisa Sekolah di SMP Favorit itu”, katanya meyakinkan aku. “Ya,…. Jawabku singkat. Ucapan jelang tidurnya membuat aku terharu dan gelisah.

Lama aku berpapasan dengan istriku, setelah anak gadis kami itu menyampaikan keluhan dan harapannya.Ya Allah, berikanlah kekuatan, ketabahan, kesehatan dan kemudahan pada anak gadisku untuk menjawab soal-soal ujiannya. Selamat ujian anak gadisku….

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: