Pendidikan

Ah, Ternyata Guru SD Lebih Hebat dari Guru SMA…

Terlihat sekali tidur anak gadisku itu benar-benar terlelap. Sudahlah bunda, biarkan saja kakak istirahat, sapaku melihat gelagat istriku yang akan membangunkan anak gadisku itu. Langkah istripun terhenti persis di depan pintu kamar anak gadisku itu. “Sepertinya, kakak ini memang lelah betul yah, kata istriku sembari melihat si kakak dengan tatapan hiba.

Zhya namanya anak kami itu, sekarang dia kelas VI SD. Artinya tidak beberapa lama lagi, Zhya dan puluhan ribu murid lainnya di Indonesia sedang disiapkan untuk mengikuti ujian nasional. Sekolah pun tidak mau kecolongan, akhirnya berbagai kegiatan untuk menempa anak agar berhasil lulus dengan hasil yang baik terus di gesa. Untuk merumuskan formula keberhasilan ini, pihak sekolah telah pula mengundang pihak orang tua untuk menjelaskan bahwasanya, sekolah membuat suatu kebijakan yang dibungkus dengan nama belajar tambahan.

Bayangkan saja, masuk sekolah pukul 7.00 pulangnya pukul 13.00. Kemudian pukul 14.00 kembali ke sekolah untuk belajar yang namanya tambahan tadi, dan berakhir pukul 16.00. Hanya berselang 60 menit, kali ini anak gadisku pergi les di sebuah pendidikan non formal dan berakhir pukul 19.00.

Sesampainya dirumah, hanya berselang beberapa menit, anak gadisku sekarang buka buku kembali. Kali ini dia mengerjakan tugas dari guru bidang study. Yang mengherankan aku, ternyata tugas yang diberikan tidak pula sedikit, melainkan satu mata pelajaran ada yang mencapai 15 soal. Dalam satu hari, apalagi hari Senin – Kamis paling tidak anak gadiku harus menyiapkan 30 soal setiap malamnya selepas les. Penderitaan anak ku lengkap sudah ketika Jumat dan Sabtu untuk tugas mata pelajaran Olahraga dan Seni Budaya, tapi untungnya tidak sesering mata pelajaran lainnya.

Luar biasa pendidikan kita dewasa ini. Sama-sama kita ketahui, beginilah kalau sistim pendidikan yang hanya mendewakan nilai. Mau masuk SMP,  apalagi yang favorit, nilai menjadi kunci, terus melanjutkan ke SMA, nilai juga yang mengambil peran penting. Masuk perguruan tinggi, lagi-lagi nilai yang menjadi acuan. Kesimpulannya, sekolah itu sama dengan hanya mengejar nilai.

Aku dan istriku juga guru. Kami tau ini adalah sebuah pemaksaan kepada anak untuk mendapatkan nilai yang baik. Bodohnya lagi, tau permasalahan ini tidak baik terhadap perembangan fsikologi anak, tetapi kami justru melakuan aksi pembiaran. Di sisi lain, anak gadisku itu juga sering membuat kami jengkel, kenapa?, karena beberapa kali kami memberikan bantuan untuk mengerjaan tugas yang bertumpuk-tumpuk itu, beberapa kali pula ia menolak dan protes karena tidak sama metode dengan apa yang diberikan oleh gurunya disekolah.

Kepolosannya, yang lebih mempercayai gurunya dari pada kami orang tuanya kami jawab dengan senyum. Namun senyuman kami dijawab sekenanya, anak gadisku itu nyeletuk “guru kakak katanya lagi,  ngajarnya tidak seperti yang Bunda ajari. Heran, ternyata walaupun Bunda  guru SMA tapi tidak sehebat guru SD katanya membandingkan dengan gurunya. Kami hanya terdiam mendengar celoteh kekesalan anak gadis kami itu. Sebenarnya, inilah yang melatarbelakangi kami untuk meleskan anak kami di tempat pendidikan non formal itu. Jujur saja, ia lebih percaya pada gurunya dari pada kami.

Di lain pihak, kami juga menyadari, tempat anak kami sekolah satu rombel terdiri dari 43 murid, maklum sekolah anak gadis kami tidak bertitel RSBI. Sedangkan di tempat lesnya seorang guru hanya berhadapan dengan 12 orang murid. Jelas ini akan mempengaruhi hasil yang diserap oleh sang anak. Kami mengakui dan menyesali sekarang, sepertinya kesalahan itu kami mulai dari sini, kenapa?, karena kami memasukan ia sekolah ketika umurnya baru 6 tahun 2 bulan.

Baru dua minggu kegiatan belajar tambahan di sekolahnya berjalan. Sekali waktu, Ba’da Isya, anak gadisku itu sudah mengeluh. Ia bilang capek, letih, lelah. Lalu pertanyaan sulit dilontarkan kepada kami. “Ayah, katanya mendekati kami yang sedang duduk di ruang tengah, bagaimana kalau kakak tidak ikut pelajaran tambahan di sekolah, Terus, jawabku lagi. “Ia, cukuplah kakak belajar ditempat les saja. Habis kalau belajar tambahan pada pukul 14.00 sampai dengan pukul 16.00 bawaannya ngantuk aja, jadi percuma kakak mengikuti pelajaran tambahan itu, katanya meyakinkan kami.

Lama, aku berpapasan dengan istriku mendengar keluhan anak gadis kami itu. Belum sampai kami pada sebuah kesimpulan, akhirnya anak gadis kami itu meralat ucapannya. Ayah, Bunda…kata anak gadis itu,  kali ini ia mengernyitkan jidatnya. Kalau kakak tidak ikut belajar tambahan, sudah pasti guru kakak marah dan menanyakan kenapa kakak tidak ikut. Suasana hening sesaat, terus anak gadis ku itu melanjutkan lagi, ah… demi SMP favorit, terus dari pada berurusan dengan guru di sekolah, mendingan kakak ikut saja, katanya sambil berlalu ke kamar mandi.

Dalam hati aku berucap, SABAR YA NAK.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: