Pendidikan

Maafkan Mama Nak……

Maaf Bu, anak saya Tono (bukan nama sebenarnya) buat masalah apalagi bu, sehingga saya dipanggil untuk yang kesekian kalinya ke sekolah”, kata Ibu muda itu mengawali pembicaraannya dengan Ibu Isuslawati (wali kelas anaknya). “Begini bu”, kata bu Isus mengawali pembicaraannya. “Ada beberapa catatan penting saya untuk Tono untuk ibu ketahui, pertama Tono dalam sebulan ini alpanya 4 hari, kemudian nilai harian banyak yang gagal dan selalu menolak untuk mengikuti remidial”, kata ibu Isus dengan nada meyakinkan. Ibu muda itu terdiam, tak bisa dipungkiri, gaya duduk, dan tatapannya hampa,  tanpa ia sadari air matanya mengalir deras di pipinya,  sepertinya Ibu muda ini memendam banyak masalah. Lama Ibu Muda itu terdiam, tampak sekali ini terbebani dengan sikap anaknya yang susah di urus.

“Saya angkat  tangan bu, Tono anak saya, selalu pergi pagi kesekolah dan pulangnya pukul 22.00 dan bahkan pukul 23.00 malam.  Lebih dari separuh waktunya dihabiskan dia duduk di warnet, hal ini hampir setiap hari ia lakukan. Saya benar-benar kehabisan cara untuk mendidik Tono bu” kata Ibu muda ini sambil terisak isak menceritakan kebiasaan Tono yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada Ibu Isus selaku wali kelas anaknya. Mendengar pengakuan Ibu muda ini, ibu Isus lalu teringat  dengan aduan beberapa orang guru yang mengatakan bahwa Tono dalam belajar selalu ngantuk dan tidak menunjukan keinginan untuk belajar. Parahnya lagi masih dari adun para guru mata pelajaran, hampir semua mata pelajaran Tono gagal dan selalu menolak untuk mengikuti remidial. “Maaf bu, saya harus panggil Tono dulu untuk bersama-sama duduk di sini”, kata ibu Isus sambil berlalu.

Tidak lama berselang, Tono datang ke ruang ibu Isus berukuran 2.5 x 6 meter itu. Sesampainya Tono di depan pintu, Ibu Isus langsung menyuruh Tono masuk dan mempersilakannya duduk. “Tono”, kata bu Isus memulai pembicaraannya. “Ya bu, jawab Tono sambil menunduk. “Jam berapa Tono sampai di rumah nak sepulang sekolah”, tanya bu Isus. Mendengar pertanyaan bu Isus, Ibu muda mengalihkan pandangannya pada Tono  anaknya yang tertunduk, lalu ia berucap “jawab yang jujur nak, jam berapa anak mama pulang sekolah”, kata ibu Muda ini dengan nada kasih sayang. Ibu Isus dan Ibu muda itu kaget bukan kepalang, apa lacur?, Tono bukannya menjawab pertanyaan bu Isus dan ajakan mamanya untuk berterus terang, melainkan Tono berkata dengan lantang, “UNTUK IBU KETAHUI, TONO LAHIR SEBELUM MAMA MENIKAH BU”. Tidak sampai disitu, “Sekarang Papa dan Mama sudah bercerai bu, Papa yang sekarang di rumah adalah Papa tiri Tono. Mendengar pemaparan ini, Ibu muda (mama Tono) langsung memeluk anaknya. “Maafkan Mama nak….., maafkan mama nak….., ampunkan mama, kata ibu muda itu sambil memeluk anaknya erat-erat. Tak terelakan lagi ketiga cucu adam tersebut larut dalam tangis, suasana yang tadinya kondusif berubah menjadi histeris.

Ini adalah salah satu kasus dari ratusan kasus yang dihadapi oleh pendidik dewasa ini. Di tengah tingginya tuntutan publik pada guru untuk membentuk siswa menuju lebih baik. Guru lebih dituntut untuk bisa menjadi dewa penyelamat di tengah carut marutnya akhlak anak bangsa dewasa ini.  Tak bisa dipungkiri, di tangan para guru masyarakat menumpangkan harapan agar anak-anaknya mempunyai cita-cita luhur. Akan tetapi kemauan dan tuntutan masyarakat agar anak didik  lebih baik dengan membelenggu guru pada posisi sulit. Di banyak kasus, guru dipelasah, terpojok dan dipojokan oleh masyarakat di tengah keteledoran guru dalam memberikan ganjaran kepada siswa yang melakukan kesalahan.

Sekali lagi, masalah pendidikan memang kompleks. Di sisi lain, kekerasan dalam dunia pendidikan juga sering memekakan telinga, oleh karena media terlalu rapi dan pintar untuk membuat berita biasa menjadi sangat luar biasa. Lihatlah betapa jantan dan gagahnya seorang Aris merdeka Sirait membela orang yang belum tentu benar, dan mempelasah orang yang belum tentu juga salah. Berita yang belum tentu kebenarannya ini telah menjadi santapan bergizi bagi media elektronik dan cetak. Kesimpulannya, pihak sekolah, guru selalu berada dipihak yang salah.

Jarang publik melihat permasalahan ini secara konprehensif. Persoalan kekerasan, tawuran antar pelajar dalam penanganannya belum banyak beranjak. Persoalan tawuran ini baru dilihat sebatas masalah lokal, bukan masalah nasional. Jika menjadi masalah nasional, tentu semua elemen masyarakat merasa bertanggung jawab. Kalau masyarakat merasa bertanggung jawab, sudah barang tentu kita tidak akan saling tuding, saling cakar dan saling mengatakan bahwa diri kitalah yang benar. Mestinya ini menjadi prioritas untuk dipikirkan, sembari memperbaiki kekurangan, merubah kebiasaan, meluruskan pandangan. Memikul yang berat akan menjadi ringan ketika dikerjakan bersama-sama. Tidak semua kesalahan mesti dihukum dengan ganjaran dan hujatan. Dan jangan lupa bahwa,  sebuah peristiwa terjadi tidak pernah berdiri sendiri.

Misalnya, peran orangtua penting untuk menjadi perhatian kita. Komunikasi antara guru dan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan pendidikan siswa. Orangtua tidak bisa menyerahkan semua proses pendidikan ke sekolah hanya karena merasa sudah membayar uang sekolah, uang buku, dan membelikan baju seragam untuk anaknya. Setelah semua itu dipenuhi oleh orang tua, selanjutnya menjadi tugas guru. Kemudian orang tua menurutkan hawa nafsunya untuk mengejar materi sampai ia menjadi gelap mata. Hal ini di aminkan oleh sumber ekonomi yang sangat terbatas, tak terelakan lagi muncullah persaingan yang super ketat, kilimaksnya, tekanan seperti ini yang tanpa kita sadari membuat orang perorang menjadi saling sikut. Lalu endingnya penghormatan kepada orang diukur dari berapa banyaknya harta yang dimiliki oleh seseorang, bukan seberapa banyak karya yang mereka hasilkan.

Sekali lagi, wahai anak bangsa, petinggi negeri, orang-orang terhormat, berhentilah kita debat kusir. Jangan tutup mata ketika menyaksikan peristiwa menggenaskan sekalipun, karena kita punya bagian di sana, apapun profesi kita. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan khususnya harus secara sungguh-sungguh memiliki keinginan yang kuat untuk membebaskan anak didik dari keterasingan realitas sosial. Yuk…. kita belum terlambat kok.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: