Pendidikan

Anak Gadisku, Untuk Sekolah Favoritnya…

DSCN5766

“Ayah, hasil try out minggu lalu, kakak dapat rengking 40 lo”, kata anak gadisku sedikit bangga. “Ah, kakak rengking 40 kok bangga sih”, jawabku sambil senyum melihat ke anak gadisku itu. “hmm… emang ayah tau, kakak rengking 40 itu dari berapa total murid yang ikut try out”, sambung anak gadisku menantang. “oh ya, emang di sekolah kakak kelas VI nya berapa kelas sih”, kataku pura-pura ngak tau. “Makanya yah, mestinya ayah tidak berkomentar jauh tentang hal yang ayah tidak tau”, celetuk anak gadisku. “Iya, iya, maafkan Ayah”, kataku datar.

“Try out pertama, Matematika kakak gagal, try out kedua, eh, Bahasa Indonesia kakak pula yang gagal” kata anak gadisku sedikit kecewa sambil melihatkan kepadaku nilai-nilai yang ia peroleh. “Tapi, nilai kakak pada try out yang kedua jauh lebih baik kok”, kataku memuji. “Makanya, renking kakak naik dari 56 menjadi 40 dari total 120 murid” kata anak gadis ku itu meyakinkan aku. “Ayah yakin, kalau kakak lebih giat lagi try out ketiga nanti kakak bisa masuk 10 besar”, kataku lagi. “Ya ampun ayah, kakak tidak mungkin bisa mengalahkan kelas unggulan itu”, kata anak gadisku sambil berlalu ke kamarnya.

Di sekolah anak gadisku, kelas VI terdiri dari 3 rombongan belajar dengan rincian; 1 kelas terdiri dari kumpulan murid yang nilai rata-ratanya bagus. Kumpulan anak-anak cerdas ini memang dibuat lain dari 2 rombongan belajar lainnya. Adapun perbedaannya, ruang kelasnya sejuk, muridnya hanya 35 orang satu kelas, uang sumbangannya Rp. 200.000,-/murid tiap bulannya. Kesimpulannya, ruang ini wah, menakjubkan dan benar-benar istimewa. Tak ayal, beberapa orang tua harus menarik anaknya dari kelas istimewa itu lantaran tak sanggup membayar dan minta pindah ke kelas dengan titel kelas biasa.

Masih menurut pengakuan anak gadisku. Belajar tambahan ala kelas istimewa ini juga berbeda dengan kelas anak gadisku yang tergolong biasa. Aku sengaja tak menanyakan apa perbedaannya dengan kelas anak gadisku itu, karena aku yakin pertanyaan aku tentang perbandingan dengan kelas istimewa itu akan membuat anak gadisku semakin terluka dan berhiba hati. Tak bisa dipungkiri, sepertinya anak gadisku itu benar-benar cemburu melihat kelas istimewa yang benar-benar mewah itu. Tapi satu hal yang membuatku bangga dengan anak gadisku itu. Karena beberapa kali dalam penerimaan rapor ia selalu membandingkan nilainya dengan nilai murid kelas istimewa itu. Seperti contoh, ketika di semester ganjil yang lalu, anak gadisku mendapat rengking 5 dari 44 murid di kelasnya. Lalu ia mengatakan padaku, “Ayah, kalau kakak di kelas istimewa itu, dengan rata-rata nilai kakak sekarang, kakak hanya di kisaran rengking 18-lo yah”, katanya sambil ketawa kecut. “Tapi kakak akan berusaha, semoga nilai kakak bisa mengantarkan ke sekolah favorit nantinya”, kata anak gadisku dengan mimik serius. “Amin”, jawabku singkat.

Memang, semenjak menduduki kelas VI ini, anak gadisku super sibuk untuk menyongsong Ujian Nasional. Isi tas sandangnya terkadang melebihi dan menyamai anak kuliahan. Sebagai orang tua, aku hanya mengontrol dan mengikuti kemauannya. Terlebih di semester kedua ini, anak gadisku telah kehilangan masa bermainnya. Pulang sekolah, wajib mengikuti belajar tambahan dengan gurunya di sekolah. Sorenya, belajar lagi di bimbel atas permintaannya. Lalu malamnya mengerjakan tugas (pekerjaan rumah) yang diberikan oleh gurunya untuk dikumpulkan keesokan harinya. Pada satu ketika, aku menanyakan pada anak gadisku itu, “apa kakak tidak capek dengan kegiatan yang tiada putusnya ini” kataku dengan tatapan hiba. Anak gadisku itu terdiam sejenak. “Capek juga sih Yah”, jawab anak gadisku itu. “Tapi jujur aja Yah, capek, penat kakak dikalahkan oleh obsesi kakak untuk masuk ke sekolah favorit , untuk itu kakak harus berhasil di Ujian Nasional kelak”, tutupnya.

Aku terkesima, hiba dan takut dengan pernyataannya. Apa lacur?, jujur saja aku takut kalau nanti cita-cita anak gadisku itu tidak kesampaian untuk belajar di sekolah impiannya itu. Atau aku dari sekarang perlu memikirkan kata-kata sakti untuk meyakinkan anak gadisku itu bahwa, cita-cita itu tidak hanya ada di sekolah favorit?.

Ya Allah, Berikan kekuatan, kesehatan, kecerdasan dan ketabahan pada anak gadisku itu. Zaman pendewaan nilai telah membuatnya kasak kusuk untuk mengejar cita-cita dan mimpi besarnya. “Maaf nak, ayah hanya bisa berdo’a untuk cita-cita mulia-mu.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: