Pendidikan

Terima Kasih Yogya, Anda Telah Berbagi

Mendengar sambutan dan pemaparan tentang SMA N 3 Yogya oleh Ibu Kepsek dan Waka Humas SMA N 3 Yogya

Guru SMA Negeri 4 Batam ketika melakukan kunjungan ke SMA Negeri 3 Yogyakarta

Sekalipun dia anak Kepala Dinas atau Gubernur, jika nilai tidak mencukupi jangan harap bisa masuk di sekolah ini. Demikian juga untuk anak kandung kepala sekolah dan majelis guru yang mengajar di sini. Komitmen sekolah ini jelas, yaitu, siapapun dia, tidak dibenarkan untuk mengintervensi sekolah ini. Artinya, siswa yang diterima di sini adalah siswa yang benar-benar mengikuti ketentuan yang dibuat oleh Dinas Pendidikan setempat dengan sistim online-nya. Ini adalah salah satu poin, dari sekian banyak pembelajaran, perbandingan yang aku dapatkan ketika rombongan kami mengunjungi salah satu sekolah favorit di Yogyakarta baru-baru ini.

Sumpah. Pernyataan ini semacam anekdot jika aku bawakan ke tempat dimana aku mengajar. Sekolah tempat aku mengajar, memang bukan sekolah yang bertitel RSBI. Sekolah aku adalah sekolah non titel. Akan tetapi bisa aku pastikan, sekolah negeri khususnya di kotaku tidak ada yang kebal dengan intervensi, sekalipun itu bertitel RSBI. Kepala sekolah di kotaku bukanlah merupakan pihak yang harus dilindungi agar tidak menerima tekanan dari siapapun. Sehingga bisa ditebak, penerimaan peserta didik baru tidak bisa berjalan murni atas dasar kemampuan akademik.

Penerimaan peserta didik baru melalui jalur online di kotaku tidak banyak membantu menjadikan PPDB ini lebih baik. Belum lagi dengan istilah kuota 20 %. Kuota ini bila dirinci sebagai berikut, berasal dari siswa yang orang tuanya tidak mampu (miskin), siswa berprestasi baik akademik maupun non akademik. Dua hal ini bisa di ukur, karena dilengkapi dengan bukti-bukti yang autentik. Yang berkaitan dengan domisili. Sungguh luar biasa, kuota domisili menjadi multi tafsir di tengah masyarakat.  Ada yang mendepinisikan lokasi sekolah hanya berjarak 8 meter dari rumahnya, terus ada warga berpendapat  lokasi sekolah ini satu kelurahan dengan tempat tinggalnya. Bahkan ada yang memvonis, kuota domisili itu berarti jarak antara sekolah dengan rumahnya berjarak 1000 meter. Mana yang benar?, entahlah, yang jelas pembuat kebijakan tidak mendipinisikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan kuota domisili itu. Kesimpulannya, semuanya berkata benar paling tidak menurut dirinya sendiri

Pelaksanaan PPDB di kotaku, tidak pernah sepi dari hujatan. Yang paling menyakitkan lagi adalah pelaksanaan PPDB telah menjadi lahan bagi calo untuk memperkaya diri. Para calo di kotaku adalah mereka yang pada umumnya bersuara lantang di setiap kali pelaksanaan PPDB. Ada yang datang dengan memakai simbol partai, ada pula yang datang berbekal secarik kertas dilengkapi dengan nama, jabatan,  dan no telpon seluler. Waduh, pokoknya lengkap. PPDB itu memang menjadi lahan bagi segelintir orang untuk memulai mengekspresikan dirinya guna mencapai sesuatu.

Satu persoalan yang belum terjawab olehku secara utuh adalah tujuan pemerintah untuk membeda-bedakan, mengkasta-kastakan satu sekolah dengan sekolah yang lainnya. Salah satu mudhoratnya sistim kasta ini bisa kita lihat di PPDB. Sekolah bertitel RSBI, PPDB-nya tidak bersamaan dengan sekolah non titel. Kasarnya, RSBI diberikan waktu terlebih dahulu untuk melakukan PPDB. Nah siswa yang tidak lolos di RSBI baru menjadi bagian sekolah non titel. Parahnya lagi antara siswa yang masuk tidak berimbang dengan daya tampung. Di sisi lain, di sinilah letak anehnya, sampai sekarang pemerintah di kotaku belum juga menemukan formula yang pas untuk menjawab persoalan ini. Akhirnya, persoalan PPDB adalah persoalan kepala sekolah dan perangkatnya. Kesimpulannya, di sekolahku tempat mengajar selalu melebihi daya tampung, bahkan satu kelas mencapai 45 orang. Tidak hanya itu, tiap tahun sekolah kami selalu membangun ruangan belajar. Sedangkan biaya di ambil dari kesepakatan antara orang tua dan pengurus komite. Di sini berawalnya cacian, maki-makian, hujatan, korupsi, tidak becus dan kata-kata pedas lainnya pada pihak kepala sekolah.

Simalakama. Menerima sesuai dengan daya tampung  tidak bisa. Karena melakukan itu sama halnya siap berhadapan dengan kebrutalan masyarakat. Belum lagi tekanan dari orang-orang yang punya taring di kotaku. Menerima siswa yang tidak tertampung, kemudian membuat kesepakatan untuk membangun ruangan belajar. Persoalan makin runyam dan mengganas. Semua media mulai dari radio, media cetak, elektronik meradang. Lalu, kemana pemerintah?. Sekali lagi, susah diprediksi, namun yang jelas pemerintah (selalu) gamang menjawab persoalan ini.

LALU?.  Yah, satu-satunya jalan. Harapan besar itu bertumpu pada pemerintah untuk mengurai benang kusut ini. Tentu kita berharap pembuat kebijakan tidak menjadi manusia peragu dalam mengambil keputusan. Maaf.. bukan cuci tangan, persoalan ini bukanlah wilayah kerja kepala sekolah dan majelis guru.

Bagi kami mengikuti aturan yang jelas dan bermartabat menjadi mimpi besar. Jangankan anak kepala dinas atau gubernur, cucu presiden sekalipun akan kami tolak, jika nilainya tidak mencukupi.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: