Pendidikan

Demi Ujian Nasional, Pangkas Mata Pelajaran Lain..

GAMBAR UN

“BU, kata salah satu perwakilan siswa itu memulai pembicaraannya. “Iya, ada apa nak, jawab ibu kepala sekolah itu dengan tenang. “Begini bu, kurang dari dua bulan lagi kami akan mengikuti ujian nasional”. “Benar, sela ibu kepala sekolah itu sambil memperbaiku duduknya, makanya kalian harus banyak belajar dan berdoa sambung ibu itu. Perwakilan siswa itupun terhenti, untuk menghilangkan groginya, juru bicara ini menatap mata kawannya satu persatu, ada kesan ianya minta energi positif untuk memberi kekuatan untuk melanjutkan pembicaraannya.

“Iya, kenapa kata ibu kepala sekolah melihat siswa ini mendadak jadi peragu. “Begini bu,” ada beberapa hal yang kami minta kepada ibu. Pertama, guru mata pelajaran yang tidak masuk dalam ujian nasional jangan lagi memberikan tugas (pekerjaan rumah) kepada kami. Kedua, pangkas saja jam mata pelajaran yang tidak di UN-kan itu menjadi satu jam pelajaran, jika tidak memungkinkan untuk dihapus. Ketiga, dengan memangkas jam pelajaran itu, otomatis akan membuat kami cepat pulang untuk beristirahat bu. Tidak sampai disitu, siswa ini mengakhiri kalimatnya dengan kata-kata “kami capek bu,” kami juga tidak mau, gara-gara mata pelajaran ini menyita waktu kami untuk mengerjakan tugas-tugas mata pelajaran yang lebih penting. Persis diujung kalimat juru bicara ini, 9 orang siswa lainnya menjawab serentak, “iya bu ” kata mereka meyakinan ibu kepala sekolah saat itu.

Tidak tau persis jam berapa siswa kelas XII jurusan IPS itu menemui kepala sekolah. Namun bisa dipastikan, ketika mereka masuk menemui ibu kepala sekolah yang dalam kesehariannya lebih banyak duduk di ruangan tata usaha dari pada di ruangannya sendiri itu sedang berlangsung proses belajar mengajar. Fungsi ruang tata usaha di sekolah kami tidak hanya keperluan administrasi, melainkan juga tempat pembayaran uang sekolah, dan terkadang ruang yang tak seberapa besar ini juga digunakan untuk pembinaan siswa . Yah boleh dikatakan ruangan ini menjadi ruang multi yang tidak asing, tidak sakti dan tidak angker dikalangan siswa.

Kepolosan siswa ini dalam menyampaikan padangan dan gagasannya luar biasa. Lebih luar biasa lagi, sebagian besar siswa  yang menghadap ini termasuk siswa yang selama ini (agak) sering berurusan dengan wali kelas, guru BP dan bahkan orang tuanya sering dipanggil ke sekolah. Lengkapnya, selama ini mereka tergolong siswa yang sedikit cuek.

Pertanyaannya, kenapa, dan mengapa siswa yang selama ini dikenal cuek itu mendadak kritis?.  Apakah suara itu benar-benar lahir dari nurani lugu mereka?. Keberanian mendadak mereka ini memang sedikit aneh kalau dilihat dari pola, tingkah mereka selama ini. Pertanyaannya lagi,  apakah ini sebagai tanda langkah maju, atau sebaliknya ketakutan luar biasa dari siswa  untuk menghadapi ujian nasional dengan sistim (yang lagi-lagi) baru?.

Seberapa besar ketergangguan mereka dengan tugas-tugas mata pelajaran yang tidak di UN-kan itu. Atau jangan-jangan kepanikan yang berlebihan dari guru mata pelajaran yang di UN-kan telah membuat mereka risau, gamang dan takut. Dilain pihak, guru mata pelajaran lain yang tidak di UN-kan itu tanpa di sengaja dan disadari telah pula menjadikan tugas sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai hasil yang lebih baik. Hal ini diperparah dengan kepanikan dan kegamangan pihak sekolah yakni dengan memberikan belajar tambahan yang dilakukan selepas jam sekolah.

Tidak bisa kita pungkiri. Selagi sistim pendidikan kita masih menganut pendewaan nilai, maka disitu pula kita akan tetap melakukan hal dan cara-cara yang sama. Seperti, untuk dapat mengenyam pendidikan di sekolah yang bertitel RSBI (almarhum) nilai menjadi taruhan, untuk melamar pekerjaan, masuk perguruan tinggi berkelas, yang mana kesemuanya itu hanya ada satu fasword yakni nilai.

Memangkas jam mata pelajaran yang tidak masuk di uji nasionalkan sebenarnya tidaklah menjadi cerita baru, melainkan ini adalah cerita usang. Kebijakan tidak cerdas ini sering menjadi polemik yang tidak berkesudahan. Kebijakan ini lemot dan benar-benar mengangkangi etika. Pembedaan mata pelajaran penting dan tidak penting ini juga terkesan diaminkan oleh pemerintah daerah. Anda mau bukti, lihatlah selepas ujian nasional dan pengumuman kelulusan, pemerintah daerah memberikan apresiasi (kebohongan)  kepada sekolah yang kelulusannya mencapai 100 %. Padahal kita tau, banyak fakta kecurangan, kejanggalan yang diangkat oleh media perihal pelaksanaan ujian nasional ini. Dan yang lebih mirisnya lagi, di banyak sekolah para guru bahkan terlibat secara langsung dalam skenario besar yang tidak mendidik ini.

Di sisi lain, pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan tetap berusaha untuk meminimalkan kecurangan, bahkan pemerintah tidak kekeringan ide dan gagasan, untuk menutup kekurangan ini, maka pemerintah (selalu) berusaha mencari formula baru. Kalau kita cermati, betapa sedih dan parahnya dunia pendidikan kita. Hmmm…kita tidak habis pikir, dan bahkan telah menjadi rahasia umum, untuk sebuah nilai kecurangan yang dilakukan secara berjamaah ini memerlukan biaya miliyaran rupiah.

Apalah daya, mental, kultur yang tidak elok ini masih tetap kita jaga. Tapi kita (para guru) harus tetap punya cita-cita sembari berdoa dan berharap sekaligus berbenah diri. Dan yang lebih penting lagi adalah kita tetap mampu membuat siswa (kita) mempunyai cita-cita agung untuk masa depannya. Kita harus bersyukur, kita harus membuang kata-kata terlambat, bahkan kita tidak boleh mengenal istilah terlambat itu. Segenggam harapan itu masih ada, selagi kita tetap komit untuk mau berbenah. Muda-mudahan, kurikulum 2013 bisa menjawab persoalan ini, semoga.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

2 thoughts on “Demi Ujian Nasional, Pangkas Mata Pelajaran Lain..

  1. Einstein bilang: Dunia ini rusak bukan karena orang yang berbuat jahat, tapi karena orang baik macam kita nih tidak berbuat apa-apa (untuk melawan kejahatan itu)….

    Posted by Desiyanti Anwar | Februari 20, 2013, 10:51 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: