Pendidikan

Pelajar Tawuran, Salah Siapa?

LUAR BIASA, tontonan dan berita tentang dunia pendidikan kita saat ini telah menelanjangi bangsa ini. Sedih sekali rasanya, seolah-olah bangsa besar kita ini seperti hutan belantara yang dihuni oleh berbagai mahluk hidup yang dalam kehidupan kesehariannya tidak mengenal etika dan estetika. Lihatlah peristiwa tawuran pelajar yang berakibat pada kematian. Masalah ini menjadi besar yang luar biasa dan diperkeruh oleh pandangan dan pendapat kebanyakan orang yang hanya bisa saling hujat, saling maki. Anehnya lagi, semua orang minta diliput pendapat dan argumentasinya, wajah mereka cengar cengir di depan layar kaca, mimik dan ekspresinya melebihi aktor beken didepan kamera. Tidak sampai disitu, ke esokan harinya giliran media cetak yang berbicara. Mereka ahli merangkai kata, sehingga muncul kesan, sebuah peristiwa itu lebih ngeri dan menakutkan dari pada peristiwa yang sesungguhnya.

Barangkali tidak adil, jika ending dari permasalahan ini hanya bermuara pada tidak cakapnya guru, tidak becusnya pendidik dalam mengurusi anak-anak bangsa, gagalnya peran guru dalam mencerdaskan generasi pengganti. Guru dicap dan dikatakan tidak lagi mempunyai wibawa didepan anak didiknya. Pernyataan di atas tidak semuanya benar dan tidak pula semuanya salah. Apalagi dengan pernyataan guru tidak lagi berwibawa. Barangkali ada benarnya, lalu, tentu muncul pertanyaan, siapa yang merongrong wibawa guru sehingga kepercayaan masyarakat kepada guru menurun?.  Desakan, ketidakmandirian, ketidakpercayaan segelintir orang yang selalu berpendapat minor terhadap guru ini jelas menurunkan wibawa dari guru itu sendiri.

Mendengar, membaca tanggapan miring yang dilontarkan banyak orang, ada kesan, seolah-olah guru tidak punya andil sedikitpun dengan bangsa ini. Hinaan, cacian, makian yang berlebihan terhadap posisi guru tidak akan pernah menyelesaikan akar permasalahan. Jujur saja, guru itu adalah manusia yang juga punya perasaan. Tindakan guru yang selalu salah di mata masyarakat, sedikit banyak akan (telah) merubah pemikiran guru dalam bertindak. Hal ini bukan tidak mungkin, kenyataan di lapangan tidak bisa dibungkus dengan retorika belaka. Terkadang sebuah teori sudah tak mempan lagi menghadapi zamannya. Sebagai contoh, siapa berani taruhan dan siapa yang sanggup menggaransi memindahkan kepala sekolah yang siswanya tawuran akan menjadi solusi yang tepat.

Maksud tulisan ini bukan mengatakan, memproklamirkan kepada masyarakat luas bahwasanya guru telah berbuat maksimal, guru tidak pernah salah, guru selalu benar. Guru telah melaksanakan tugasnya dengan baik tanpa cacat. Sekali lagi bukan itu, melainkan marilah kita lihat permasalahan ini sebagai permasalahan kita bersama. Hentikan saling salah menyalahkan, intropeksi diri masing-masing, dengan hati yang jernih mari kita berpikir apa jalan keluar yang bisa memutus benang merahnya.

Dosen psikologi Universitas Indonesia Winarini Wilman, yang saya kutip dari media kompas online, mengatakan, persoalan kekerasan di kalangan pelajar dan penanganannya belum banyak beranjak. ”Persoalan tawuran ini baru dilihat sebatas masalah lokal, bukan masalah nasional. Kalau sudah menjadi masalah nasional, semua elemen masyarakat ikut terlibat dan ikut waspada di semua lini,” lanjutnya.

Pernyataan ini cerdas, arahnya jelas. Semua pihak yang berkompeten mestinya memikirkan dan bertindak sesuai dengan porsinya. Mestinya ini menjadi prioritas untuk dipikirkan, sembari memperbaiki kekurangan, merubaah kebiasaan, meluruskan pandangan. Memikul yang berat akan menjadi ringan ketika dikerjakan bersama-sama. Tidak semua kesalahan mesti dihukum dengan ganjaran yang berat. Karena sebuah peristiwa terjadi tidak pernah berdiri sendiri.

Misalnya, peran orangtua penting untuk menjadi perhatian kita. Komunikasi antara guru dan orang tua menjadi salah satu kunci keberhasilan pendidikan siswa. Orangtua tidak bisa menyerahkan semua proses pendidikan ke sekolah hanya karena merasa sudah membayar uang sekolah, uang buku, dan membelikan baju seragam untuk anaknya. Setelah semua itu dipenuhi oleh orang tua, selanjutnya menjadi tugas guru. Kemudian orang tua menurutkan hawa nafsunya untuk mengejar materi sampai ia menjadi gelap mata. Hal ini di aminkan oleh sumber ekonomi yang sangat terbatas, tak terelakan lagi muncullah persaingan yang super ketat, kilimaksnya, tekanan seperti ini yang tanpa kita sadari membuat orang perorang menjadi saling sikut. Lalu endingnya penghormatan kepada orang diukur dari berapa banyaknya harta yang dimiliki oleh seseorang, bukan seberapa banyak karya yang mereka hasilkan. Sumpah, sebegini parahkah bangsa kita ini?.

Sekali lagi, wahai anak bangsa, petinggi negeri, orang-orang terhormat, berhentilah kita debat kusir. Jangan tutup mata ketika menyaksikan peristiwa menggenaskan sekalipun, karena kita punya bagian di sana, apapun profesi kita. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan khususnya harus secara sungguh-sungguh memiliki keinginan yang kuat untuk membebaskan anak didik dari keterasingan realitas sosial.

Berikan kepercayaan seluas-luasnya kepada guru untuk mendidik, membina, memanusiakan manusia, disisi lain para petinggi negeri, para pembuat kebijakan, para konseptor rumuskan pemikiran cerdas untuk menuju arah pendididkan yang baik, misalnya sistim pendidikan. Apakah sistim yang diterapkan sekarang sudah berorientasi pada pembentukan watak dan peradaban yang baik.

Jangan biarkan jiwa generasi pengganti kita menjadi kering kerontang, berhentilah memandang pelajaran yang diperlukan itu hanya Matematika, Fisika, Kimia dan lainnya. Sedangkan materi pelajaran kesenian bisa bongkar pasang untuk memenuhi yang diwajibkan tadi. Di zaman pendewaan materi dan teknologi ini, seharusnya disegarkan dengan kesenian. Jika tidak, mereka kelak akan menjadi orang-orang yang bringas yang hanya tahu “seni” melempar batu dan jika sudah besar hanya menguasai “seni” debat kusir yang kemudian diikuti dengan aksi usir-mengusir. Seperti yang kita lihat di acara debat, baik di televisi, ruang seminar, ruang rapat dewan yang katanya terhormat, ruang pengadilan. Tidakkah kita menyadari, ini terjadi diseluruh lapisan umur dan masyarakat. Sekali lagi sadarlah wahai penghuni bumi Allah.

Dipenghujung tulisan ini saya bingung, bahkan, bertanya pada diri sendiri,  jika anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berkelahi di ruang sidang, lalu para pejabat seperti Bupati, Walikota, Gubernur melakukan korupsi, terus pengusaha semena-mena terhadap buruh, seorang Menteri yang duduk di kabinet selingkuh misalnya dengan wanita lain apakah guru juga yang harus dipelasah dan persalahkan?, ENTAHLAH….

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: