Politik

67 Tahun, Indonesia (sudah) Merdeka?

TIGA hari lagi Hari Ulang Tahun ke-67 Republik Indonesia akan dirayakan. Pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya mulai dari Kabupaten/Kota sampai ke Istana Presiden acara seremonial ini selalu menggerus anggaran yang tidak sedikit. Bayangkan saja, Indonesia (kita) saat ini terdiri dari 33 provinsi dengan 398 kabupaten dan 93 kota, serta 1 kabupaten administrasi dan 5 kota administrasi. Memang kita tidak bisa mengkalkulasikan berapa total biaya untuk perayaan ini, tapi yang jelas (angkanya) luar biasa dan fantastis bukan?. Jawabannya singkat saja, selagi pengurus bangsa yang besar ini masih mendewakan kemewahan, atau penampilan, maka alhasil semua peringatan, perayaan akan terjebak kepada bentuk kegiatan yang sifatnya seremonial saja. Maka jadilah kegiatan ini “kering” makna.

Bukan berarti, Bupati, Walikota, Gubernur sampai dengan istana presiden kita tuntut untuk merayakan HUT kemerdekaan Republik Indonesia cukup dengan kegiatan lomba panjat pinang, pacu karung, tepuk bantal, makan kerupuk, nangkap belut dan lain-lain. Perayaan-perayaan sederhana ini adalah perayaan di kampung-kampung, di nagari-nagari, di desa-desa, dan di kelurahan-kelurahan. Kegiatan ini sederhana, namun sarat makna. Banyak hal yang bisa dipetik dari sini, seperti, nilai kebersamaan, kegotongroyongan. Tanpa kesadaran dan kegotongroyongan semua pihak sulit untuk membangun bangsa ini, bahkan hanya sekedar mempertahankanpun.

Bukan sekedar (tidak suka) mengkritisi kebijakan pemerintah, namun tradisi yang tidak menyentuh kepada kemaslahatan rakyat mestinya dikaji ulang. Terkadang kita malu sebagai anak bangsa, tergerus hati ini. Kenapa tidak, bangsa ini belum bisa memberikan keadilan sesuai dengan yang di amanatkan. Ibarat sebuah pementasan teater yang langsung disutradarai oleh petinggi negeri ini, babak demi babak yang muncul di panggung spektakuler makin brutal saja. Sutradara seperti kehilangan arah, terlalu hati-hati, sehingga muncul kesan pertunjukan ini merupakan ekpresi individu pemain/aktor. Sementara sutradara dengan alasan klasik, tidak mau turun menegur pemain yang berjalan tidak sesuai dengan skenario, takut dituding oleh pemain mengintervensi. Jelas, pertunjukan ini sepertinya tidak terkonsep dengan baik. Sebagai bukti, toh, pertunjukan ini belum juga sampai ke endingnya. Pertunjukan panjang ini diperparah karena mengankangi nilai etika dan estetika. Oleh karena itu penonton (rakyat) marah!!.

33 tahun lagi, republik ini genap berusia 1 abad. Ini berarti, sudah 67 tahun lamanya  kita tidak lagi mendengar teriakan Maju, Allahu Akbar, Serang, Hidup atau Mati dan teriakan-teriakan penyemangat lainnya. Bersatu padunya kekuatan para pendahulu kita dan mereka bergerak dengan satu tujuan yaitu memperjuangan Indonesia untuk merdeka. Untuk mendapatkan ini, mereka harus meregang nyawa, anak-anak jadi yatim, ibu-ibu jadi janda, sekali lagi mereka ikhlas dan rela mati. Sungguh luar biasa pengabdiannya untuk negeri ini. Cita-cita pendiri bangsa ini jelas, yakni mendirikan negara Indonesia yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya. Merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, mengedepankan kepentingan bangsa untuk berdaulat tanpa ketergantungan dengan bangsa lain.

Sekali lagi, perayaan dan peringatan HUT Republik Indonesia tahun 2012 ini adalah yang ke-67 tahun. Belanda, Portugis dan Jepang telah lama lama enyah dari bumi nusantara ini. Udara, tanah, laut dan seluruh negeri ini telah dikauasai oleh bangsa ini. Bendera merah putih dengan gagahnya telah berkibar sampai kepelosok negeri. Pertanyaannya, sudahkah bangsa ini berdiri di kakinya sendiri?. Masing-masing kita tentu mempunyai jawaban tersendiri. Tapi tidak bisa dipungkiri, merdeka belum sampai kepengertian yang sesungguhnya. Kesenjangan sosial masih terjadi di mana-mana. Pendidikan masih menjadi barang langka bagi sebagian masyarakat. Sekolah gratis yang didengungkan oleh pemerintah masih setengah hati, jika kasar dikatakan sebatas retorika.

Bidang pertahanan berkata lain, negara besar ini terlalu sopan, sehingga terkesan tidak mempunyai nyali menghadapi ulah negara tetangga. Kekayaan laut yang kita miliki dan berharap bisa memberikan limpahan rezeki pada nelayan kita, telah pula dijarah oleh kapal-kapal asing. Mencoba berlagak menjadi penjaga perbatasan yang setia, mengejar dan menangkap kapal asing yang menerobos perbatasan, tidak lama berselang berkat kerjasama dan komunikasi yang intens dengan pihak kapal akhirnya mereka bebas tanpa hambatan bisa kembali ke negaranya.

Bidang ekonomi memperagakan, ibu rumah tangga rela membunuh buah hatinya lantaran beratnya beban hidup. Cerita ini semakin miris ketika kita berkali kali menerima berita para TKW kita mati mengenaskan di negara tetangga, juga berkali-kali menerima kiriman peti dari negara Arab. Inikah cita-cita kemerdekaan itu?,

Pak Beye, melalui HUT Republik Indonesia yang ke 67 ini, seluruh anak bangsa ini berharap kepada Bapak untuk memperbaiki arah kebijakan, tingkatkan dan tunjukan hasil nyatanya kepada kami bahwa, pemerintahan Bapak memang benar-benar komit untuk memberantas korupsi. Menciptakan kenyamanan di negeri ini, sehingga anak bangsa bebas berekplorasi menuju cita-citanya. Ciptakan lapangan kerja, yang disertai dengan arah pembangunan lebih kepada kepentingan rakyat bukan kepentingan kaum kapitalis. Tegakan hukum dengan seadil-adilnya. Bapak jangan takut kepada parpol dan para politisi. Bapak harus bisa singkirkan politik dagang sapi di negeri ini. Demikian pak, Dirgahayu Bangsa-ku… M E R D E K A !!!!

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: