Seni

Pementasan Teater Dipertigaan Rumahitam, mencari penonton baru?

Bismillahirrahmanirrahim
Salam pada alam langit dan bumi, salam bagimu pertigaan kapan kau lengang
Dipertigaan jiwa-jiwa lengang. Dipertigaan banyak orang-orang meradang. Dipertigaan banyak orang malang. Dipertigaan banyak orang menabur uang untuk menang.

Penggalan sajak ini sepertinya telah menjadi tema, skenario dan sekaligus judul dari karya teater yang dipentaskan di gedung teater kecil Raja Ali Kelana selama beberapa hari ini. Pemetaan penampilan-pun dirancang. Ada kesan, komunitas seni rumahitam kali ini seolah-olah mencoba mencari penonton baru. Atau, memberitahu sekaligus membuktikan pada masyarakat, bahwasanya dunia akting itu berkembang dan bahkan diminati di daerah ini. Beberapa kali pertunjukan lakon ini memang terjadi pasang surut. Pertunjukan pada malam hari yang diperuntukan kepada masyarakat umum belum sepenuhnya mendapat tempat di kalangan penikmat seni teater. Di siang hari, emosi dan aktualisasi diri para pemain sedikit terobati, karena di tonton oleh puluhan pasang mata pelajar yang ada di kota Batam.

Gagasan pertigaan rumahitam terinspirasi oleh situasi perpolitikan saat ini. Perpolitikan sekarang telah membuat banyak orang menjadi gila, stres dan sekarat dari sisi finansial. Kesekaratan universal itu dibuktikan oleh sutradara dengan mengusung simbol-simbol demokrasi ke atas panggung. Akan tetapi, sangat disayangkan, penggunaan simbol-simbol demokrasi itu terasa sarat memadati panggung berukuran 5 x 4 meter itu. Namun, secara keseluruhan, penyajian dari teater ini cukup memberi ruang imajinasi kepada audien. Di tengah kekurangan yang ada, masih tersimpan harapan kepada komunitas ini untuk selalu memproduksi dengan judul-judul yang lain. Mudah-mudahan kuantitas pertunjukan, dan seringnya keikutsertaan komunitas ini ke forum-forum teater ke daerah lain akan menjamin kualitas pertunjukan di kemudian hari. Dan pegiat-pegiat teater yang muncul sekarang di rumahitam, melebihi sekumpulan orang yang hanya mampu bersorak sorai di kandangnya sendiri.

Plot dan blocking panggung
Kalau saja boleh mengkesampingkan, atau menukar adegan awal pertunjukan (suara gemuruh musik, serta lalu lalangnya para pemain masuk panggung, celoteh saling bersautan antara pemain, pemusik) ini, yang kemudian, digantikan dengan adegan kemunculan tokoh (indra). Mungkin tehnik muncul pertunjukan ini terasa lebih hidmat, otak penonton pun mulai menari dengan bebasnya. Karena kehadiran lakon (indra) sangat kuat dan bahkan bisa membuat para penonton berdecak kagum, dengan posisi duduk membetuk garis diagonal, pandangannya yang tajam seolah-olah membelah panggung, suasana hening, minim kata-kata, suasana ini lebih dipertajam dengan kehadiran alunan gitar membuat kemunculan indra sarat dengan makna.

Kekuatan tubuhnya benar-benar dimanfaatkan untuk berimajinasi, berekplorasi dan berekpresi, maka bisa disimpulkan indra terbilang baik jika dibandingkan dengan pemain-pemain lainnya. Jujur saja, kehadiran indra di awal pertunjukan memang telah menjadi magnit tersendiri. Sehingga keberhasilannya di awal bisa menutupi kekurangannya ketika melakukan adegan di plot-plot yang lain. Indra asik bermain dengan kesendiriannya, improvisasi di tengah dialog oleh aktor yang lain secara tidak langsung memberi kekuatan tersendiri. Akan tetapi tidak bisa pula dipungkiri, bahwa, Indra juga sering lepas dari konteks penampilan secara keseluruhan.

Inti dari naskah ini, kiranya berada di Halte. Halte itu mengambil tempat persis di kiri belakang pentas. Ukuran Halte inipun hampir setengah dari keseluruhan panggung. Lalu pemain 1 (Iliyas) mondar mandir sambil menghisap cerutu mininya, sedangkan Pemain 2 (seorang cewek) yang duduk di ujung Halte itu terlihat gelisah, sesekali ia menoleh kepada pemain 1, kemudian matanya lama tak berkedip, pandangannya terasa hampa, pikiran berat seolah-olah bermain di otaknya. Pemain 1 (iliyas) masih sibuk dengan kesendiriannya. Sesekali iliyas memang memberikan respon kepada lawan mainnya, Kejenuhan, monoton mulai dirasakan setelah beberapa menit iliyas dialog dengan kesendiriannya. Kebuntuan itu baru terpecahkan ketika Iliyas menaiki halte dengan kekuatan dan ekspresi yang mengena. Iliyas dengan lantang menyampaikan cercaannya kepada partai yang seolah-olah melewati pertigaan rumahitam itu. Kalian hanya bikin kota ini kotor, spanduk dan brosur yang kalian pajang dimana-mana hanya omong kosong, suara kalian memekakan telinga kami, pergi, pergi, dan enyahlah kalian dari sini. demikian iliyas berhasil menutup ujung dialognya.

Tidak sampai disitu, sang sutradara memberi aksen yang lebih kuat lagi, ia masuk ditengah iliyas tengah menemui kebimbangan dan penurunan emosi lantaran, pemain 2 (cewek) yang tidak maksimal memberikan sugesti. Bagian ini terasa sangat kuat, ditambah dengan totalitas Tarmizi dengan adegan 9 detiknya yang menginginkan adegan ini di ulang dari awal. Jujur, kemunculan tarmizi yang sejak awal hanya mengutak atik komputer yang ditaroh pojok kiri penonton itu, sangat kuat. Adegan ini memang pernah menjadi bagian dari produksi teater tahun lalu, akan tetapi kehadiran kali ini menjadi lebih kuat. Sangat di sayangkan, adegan penuh sensasi ini tidak lama berjalan. Masuknya 3 orang pemusik dengan 3 alat instrumen yang masing-masing membawa Tamburin, Gitar dan Gendang Jimbe, menjadikan kelanjutan adegan ini menjadi kehilangan arah, dan sama sekali tidak mengena, baik itu dari tatanan konsep maupun suasana yang dinginkan menjadi tidak karu karuan.

Sutradara dan pemain pemula
Ada kesan mereka bermain seolah-olah menuruti semua apa yang diinginkan oleh sutradara. Mestinya hal ini di balik, seorang sutradara memberikan kebebasan berekspresi kepada pemainnnya untuk mengeinterpretasikan naskahnya. Karena ketika pertunjukan ini di usung kepada masyarakat penonton, peran sutradara tidak lagi mendominasi. Tanggung jawab itu berada sepenuhnya pada pemain (aktor). Apalagi dengan mengandalkan pemain pemula mestinya Tarmizi harus pintar menyiasati pertunjukan ini. Tapi kita meyakini ini adalah sebuah proses yang akan membuat mereka mengerti hakikat berteater. Salah satu peristiwa budaya ini akan lahir berjenjang dengan sendirinya. Sisi lain yang bisa dilihat dari pertunjukan teater ini adalah, diperlukannya keberanian Tarmizi untuk memadukan beberapa unsur seni yakni, dialog dan gerak. Di samping dialog (kata-kata) yang menjadi media utama teater, kemudian diramu dengan medium gerak (tari) yang gunanya adalah untuk menjelajahi nilai spiritual dalam teater itu sendiri. Hal ini bukan tidak mungkin dikarenakan Tarmizi punya seorang Musdar. Dikatakan melengkapi karena, tari dan teater merupakan dua disiplin ilmu yang di dapat oleh Musdar secara formal, walaupun tidak tuntas. Tinggal sekarang, Musdar itu di posisikan kemana?.

Jujur saja, saya harus mengucapkan tahniah kepada Tarmizi yang tetap eksis dengan kesenimannya. Masalah kualitas, memang tidak segampang itu diraih. Di tengah sulitnya masyarakat untuk tetap bertahan hidup, kelompok ini masih bisa menyisakan waktu untuk berolah pikir, dan berkreasi. Kelelahan tarmizi mengurusi bengkel teaternya ini bukan tidak beralasan. Keluar masuknya para pemain dan penghuni rumahitam membuat ia selalu harus mengeluarkan barang baru. Melatih orang baru, merekrut yang baru, sementara mereka yang telah berlatih sekian lama sehingga hendak memasuki babak penyempurnaan ekspresi, dengan alasan klasik (mencari sesuap nasi) mereka harus hengkang dan mencari pelabuhan baru yang tidak ada hubungan sama sekali dengan apa yang ia kerjakan selama ini.

Kelelahan Tarimizi juga telah menjadi kelelahan kehidupan kesenian di daerah ini, bahkan mungkin tidak berlebihan jika di katakan di beberapa banyak daerah akan mengalami hal yang sama. Stagnasi berkesenian itu dimulai dari sini. Mudah ditebak, bahwa, hidup dengan berkesenian masih menjadi barang langka dalam peradaban zaman sekarang, apalagi di Batam. Namun tidak sedikit pula orang-orang di sini justru bisa sukses dengan pilihannya. Ini bukan masalah nasib, akan tetapi bergantung sepenuhnya pada keyakinan dan usaha yang dilakukan oleh seseorang seniman tersebut.

Tarmizi, teruslah berbuat, berkreasi, bereksprimen, dan berolah seni untuk memberi keseimbangan kepada masyarakat di kota kalengking ini. Riak dan bahkan gelombang besar yang ada di laut hiru biru sana sering dibawa oleh orang perorangan ke daratan. Dan kita sama-sama tahu, bahwa, di kota ini semakin banyak saja seniman, dan orang yang mengaku seniman yang pandai berbicara dan bersikeras meminta untuk di dengar suaranya. Anehnya lagi seniman di sini suka menikmati suaranya sendiri, padahal ianya tuli dan tidak peduli terhadap suara orang lain? Apalagi suara orang seperti kita ini. LANTAKLAH!!!!

(tulisan ini sudah dimuat media harian lokal yang terbit di Batam)

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: