Seni

Dewan Kesenian Batam, Antara Kecemasan dan Harapan

AKHIRNYA, kepengurusan Dewan Kesenian Batam (DKB) periode 2009-2013 dilantik juga. Jujur saja, lima bulan yang lalu sebagian besar seniman yang ada di Batam sempat juga risih dan bertanya-tanya, akankah hasil Musyawarah Seniman Daerah (Musenda) yang di dakan di awal Maret 2009 yang bertempat di Hotel Nagoya Plaza itu akan berlanjut dengan membentuk kepengurusan yang baru?.

Jawaban dari pertanyaan kecil itu menjadi penting. Jika ditanya, kenapa ?, karena mereka-nya sudah sangat lama merindukan pengelolalaan seni itu berjalan sesuai dengan rencana program kerja. Hal ini bukanlah bermaksud mengatakan bahwa, selama ini Dewan Kesenian itu pengelolaannya tidak baik. Untuk melihat keberhasilan serta membandingkan kinerja kepengurusan saat ini kelak, acuan yang mesti dipakai adalah kondisi sekarang, bukan kondisi awal berdirinya Dewan Kesenian yang waktu itu di nahkodai oleh Saptono, yang kemudian digantikan oleh Samson Rambah Pasir. Kalaulah permasalahan klasik itu juga yang diungkai, maka kedepannya Dewan Kesenian Batam akan tetap stagnan.

Dilihat dari kepengurusan Dewan Kesenian Batam jilid tiga ini, ada semacam harapan untuk lebih baik dari sebelumnya. Jujur saja, “penghulu” yang baru punya kekuatan modal untuk itu. Saham itu telah diberikan oleh seniman di daerah ini dengan memberikan suara yang tidak terprediksi sebelumnya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa, penghulu yang telah dikukuhkan di Pulau Panjang ini dipilih secara aklamasi oleh semua peserta musenda waktu itu. Suara yang ia dapatkan bak bola, sehingga kemanapun ia digelindingkan tidak menjadi masalah. Dan saya sedikit tau, sekaligus meyakini bahwa sang penghulu ini tidak menggunakan tim sukses, apalagi uang untuk sogok sana, sogok sini seperti layaknya pemilu-pemilu yang baru saja dan berhasil memekak-kan telinga kita. Harapan kita lebih jauh kepada penghulu baru adalah telah menunjuk orang-orang yang pas. Jika ada sedikit ragu-ragu, harap-harap cemas, dan sampai pada pertimbangan matang, agar supaya tidak lahir riak kecil di tengah kondusifnya pasca pemilihan. Hal ini wajar, egosentris dan sok idealis terkadang memang harus dikorbankan untuk meraih yang lebih baik. Siapapun setuju, menempatkan pengurus yang sesuai dengan bidangnya menjadi poin penting untuk mengurus kesenian agar supaya kesenian itu tidak salah urus. Akankah?. Entahlah. Yang jelas, paradigma Dewan Kesenian yang selama ini di anut haruslah dirubah. Untuk itu, kesempatan berpikir, bekerja dan melakukan program yang telah dibuat harus diberikan seluas-luasnya kepada pengurus yang baru. Artinya, evaluasi penting, namun belum waktunya.

Dewan Kesenian dan Dinas Pariwisata
Dewan kesenian dan Dinas pariwisata adalah dua lembaga yang berbeda. Persamaannya, sama-sama mengurusi kesenian. Trendnya adalah mengurus kesenian ala pemerintahan (Dinas Pariwisata) dan mengurus kesenian ala seniman (Dewan Kesenian). Artinya, Dewan Kesenian adalah salah satu lembaga yang tugasnya mengembangkankan dan menggali kesenian secara mekanisme informal yang pembiayaannya diambilkan dari dana APBD. Sedangkan kesenian yang diurus dan pengembangnnya secara terstruktur-formal dikelola oleh Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Kedua lembaga ini menjadi penting untuk kelanjutan kehidupan kesenian itu sendiri, di samping itu ia juga diharapkan mampu menjawab segala persoalan tentang pelestarian nilai-nilai. Melestarikan kesenian tradisi tidak bisa selesai hanya melalui sebuah forum dan pidato yang fantastis saja, yang diperlukan bahkan sangat mendesak untuk dilakukan adalah program kerja nyata yang berbuah dalam bentuk kegiatan atau iven.

Lima bulan yang lalu, semua komite dalam memaparkan program kerjanya waktu Musenda adalah jelas dan bahkan tegas mengatakan DKB jilid 3 ini harus punya sekretariat. Setelah sekretariat baru program dari masing-masing komite. Barangkali sudah saatnya DKB melahirkan beberapa iven yang bisa membesarkan dirinya sendiri. Jangan lagi terjadi kegiatan dualisme yang tidak jelas, siapa di bawah dan siapa di atas, atau siapa numpang siapa. Seiring dengan bertambahnya umur DKB ini, mestinya ia bisa berdiri di kakinya sendiri, karena ia telah dibekali oleh sumber daya manusia yang handal, sedangkan untuk menjalankan programnya, ianya telah pula diberikan dana, sekalipun belum mencukupi. Mudah ditebak, jikalau DKB bisa merealisasikan program-programnya yang bernas di tengah masyarakat, tentu pemerintah tidak akan menutup mata, ketika DKB mengajukan penambahan dana. Untuk itu, program DKB itu harus jelas. DKB tidak boleh manjadi peragu, untuk itu ianya harus direformasi, sehingga kedepannya kita berharap, DKB hadir tidak selalu satu panggung dengan Dinas Pariwisata.

Mimpi kita kedepannya adalah dua lembaga ini bisa mensinergikan pekerja dan karya seni dengan kekuasaan dan kekuatan yang bergerak secara format swasta, kalaulah hal ini bisa berjalan maka kecemasan akan berubah menjadi harapan dan kita tidak perlu cemas ataupun gelisah untuk melestarikan nilai-nilai tradisi yang hidup di tengah masyarakat, karena ianya akan tetap terjaga.

Kita tumpangkan harapan besar kita kepada bung Hasan Aspahani untuk menjadikan Dewan Kesenian Batam menjadi lahan yang indah dan melegakan seniman ketika di wadah ini tumbuh subur kehidupan seni dan seniman hidup dan dapat menghidupi kehidupannya. Begitu pula sudah saatnya juga seniman Batam ini bisa berbicara di iven Nasional bahkan Internasional secara kelembagaan. Karena kesempatan itu selama ini selalu saja terbuka luas, namun asa itu pupus dalam hal finansial. Ayo seniman Batam, sudah saatnya Gendang Tanjak kita mainkan bersama, ditingkah dengan bunyi Marwas yang kental dengan pola Zapinnya, sekaligus alunan melodis Akordion, Biola serta Gambus sehingga melahirkan bunyi yang semakin ritmis. Kita tidak sedang dalam bermimpi untuk menghadirkan suasana ini. Wahai seniman, ini pertanda kita sudah mendekati pintu perubahan, dan mengatakan kepada daerah lain bahwa kota Batam bukan hanya dikenal sebagai kota alih kapal dan industri, namun juga kota budaya.

Yakin, dan kita memang harus yakin, Dewan Kesenian Batam lambat laun akan besar, dan nama seniman yang ada di provinsi Kepulauan Riau berpeluang besar untuk menghiasi peristiwa budaya yang ada di panggung-panggung profesional. Persoalannya adalah bagaimana Bung Hasan Aspahani bisa membuat Dewan Kesenian Batam ini menjadi lahan subur, sedangkan seniman disulap menjadi bibit-bibit unggul yang siap ditanam di tanah manapun.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

One thought on “Dewan Kesenian Batam, Antara Kecemasan dan Harapan

  1. Alhamdulillah, satu persatu talisanku diketemukan lagi. Ini memang tulisan lama yg sudah diterbitkan dimedia cetak terbitan batam.

    Posted by faisalamri71 | Agustus 5, 2012, 8:00 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: