Politik

Etika tanpa Estetika ala poli-TIKUS

Fenomena menarik yang terjadi di republik kita sekarang adalah, membesarkan yang kecil, dan mengecilkan yang besar. Sebagai contoh peristiwa yang terjadi di bumi Papua. Hampir semua media elektronik tidak luput untuk memberitakan peristiwa yang terjadi di Papua itu. Giliran rakyat Papua yang tertembak oleh aparat misalnya semua LSM meradang, Sebaliknya giliran aparat yang tertembak dan mati pemberitaan cukup satu kali saja. LSM, dan orang-orang pintar lainnya berpura pura tidak tau dengan peristiwa itu. Sangat sedih, dan saya juga baru tau apakah nyawa aparat polisi dengan rakyat sipil berbeda?. Pernyataan saya bukanlah untuk membela Polisi, dan saya tegaskan juga saya bukan dari keluarga Polisi, tidak satupun dari kelurga saya yang menjadi anggota berbaju coklat itu. Saya hanya mau melihat peristiwa secara utuh. Terkadang saya juga berasumsi bahwa pemberitaan yang muncul seolah-olah terkesan menanamkan kebencian. Demokrasi di Indonesia ibarat orang pakai baju, tetapi tidak pakai celana. Buah demokrasi yang keguguran.

Baru saja saya menyaksikan Jakarta lowyer Club (JLC) di salah satu stasiun televisi swasta nasional. Karni Iliyas sering mengatakan bahwa acara JLC adalah acara yang di tunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia, memang benar adanya. Di acara ini para orang hebat, cendikia, tokoh jual tampang di sini. Mereka mengadu argumentasi, dan mengangkangi etika dan estetika.

Mau bukti, yang paling hangat adalah acara JLC malam ini. tersebutlah seorang anggota dewan (yang katanya) terhormat si-POLTAK Ruhut Sitompul dengan Hotman Paris Hutapea. Dua orang pengacara ini seperti anak kecil, dari pernyataan yang disampaikan oleh Ruhut seolah-olah tidak mengenal dengan etika dan estetika, main babat, berbicara seenaknya. Hotman tidak mau kalah, lalu menjawab sekenanya.

Wahai bung dewan yang katanya terhormat, dan bung pengacara yang pintar bersilat lidah mestinya kalian munculkan wujud kalian dengan bertutur yang indah seindah penampilan kalian.

Anak bangsa ini lagi kebanjiran orang hebat, semua orang minta didengar pendapatnya, semua orang minta dihargai argumennya, semua orang makin berani berbicara asal-asalan yang dibungkus dengan demokrasi. Tapi anak bangsa ini aneh juga, ianya tuli dan tidak peduli dengan yang sesungguhnya.

Kalau begini kejadiannya, saya bersyukur anak saya yang masih duduk di bangku SD kelas V itu tidak suka menonton acara JLC ini. Kalaulah anak saya menonton acara ini, satu hal yang saya takutkan adalah dia bertanya pendapat saya tentang pertengkaran si Ruhut dengan Hotman itu.

About paisalamri71

Kawan seniman menyebut saya (sekarang) adalah SENIMAN GAGAL. Apa lacur?. Sebelum saya memutuskan hijrah (tahun 1998) ke Batam, memang nama saya sering menghiasi baliho, spanduk dan banner di acara pementasan koreografi baik sekala nasional sampai ke Internasional. Saya sangat menyadari potensi saya waktu itu. Tapi saya harus memilih. Batam adalah satu-satunya kota yang saya pilih sebagai lahan hidup saya. Sampai sekarang saya mengajar di SMA 4 Batam. Bagaimanapun jiwa seni yang melekat dengan saya tetap memberikan warna tersendiri. Dengan profesi baru ini semoga kawan saya tidak menyebut saya guru yang gagal.

Diskusi

One thought on “Etika tanpa Estetika ala poli-TIKUS

  1. ruhut…oh ruhut… saya pingin anda itu cerdaslah dikit…

    Posted by faisalamri71 | Desember 11, 2011, 9:24 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Poster PSP 5 dan Kejuaraan Volly Ke-2 SMAN 4 BATAM

%d blogger menyukai ini: